Senin, 19 Mei 2008

Kisah Atlas dari Amsterdam

AJAKAN itu datang dari sahabat jauh di negeri Belanda, awal 1950. Mattheus van Randwijk, Kepala Redaksi dan Direktur Majalah Mingguan Vrij Nederland, meminta Djamaludin Adinegoro datang ke Belanda. Randwijk punya agenda penting. Bersama Cornelis de Koning, koleganya di Vrij Nederland, ia ingin memperbanyak penerbitan buku untuk Indonesia. Salah satunya membuat atlas.

Mereka mencurahkan energi pada usaha penerbitan dan penjualan buku setelah majalah yang dikelolanya goyah ditinggal pelanggan. Vrij Nederland dianggap terlalu memihak Indonesia.

Adinegoro menerima ajakan Randwijk. Ia rela meninggalkan Mimbar Indonesia, surat kabar yang ikut dirintisnya sejak 1947, karena upaya penerbitan buku itu untuk menjembatani hubungan Indonesia dan Belanda. "Kami sekeluarga sampai boyongan ke Amsterdam," kata Anita Bachtul Chatam, anak kedua Adinegoro, Selasa pekan lalu.

Di kota itu, Adinegoro bersama istri dan lima anaknya tinggal di rumah Paulus Potterstraat. Di bangunan lima lantai itu mereka menempati lantai dasar hingga lantai dua. Lantai sisanya dihuni keluarga lain. "Kamar dan ruangannya kecil-kecil," kata Anita, kini 71 tahun, mengenang. "Tapi rumah kami menjadi tempat berkumpul mahasiswa Indonesia."

Hampir dua tahun di sana, Adinegoro menghabiskan waktu untuk mengerjakan atlas. Ia dibantu Adam Bachtiar dan Sutopo. "Om Bachtiar bolak-balik Jakarta-Amsterdam," ujar Anita. Kebetulan Adam Bachtiar bersaudara dengan Adinegoro. Ibu mertua Bachtiar kakak kandung Adinegoro. Adapun Sutopo adalah kolega Bachtiar. Ia guru etnologi di sekolah menengah tinggi di Jakarta, yang dipimpin Bachtiar.

Pada masa itu belum ada percetakan yang memadai untuk membuat peta di Jakarta. Itu sebabnya, gambar kartografi atlas dibuat NV Cartografisch Instituut Bootsma-Falkplan di Den Haag. Sementara itu, gambar dan naskah dicetak di percetakan offset NV Boek-en Kunstdrukkerij V/H Mouton & Co., juga di Den Haag.

Falkplan adalah salah satu pembuat atlas yang masih terkenal di negeri itu. "Mereka sekarang menerbitkan peta-peta lipat untuk wisatawan," kata Jaap Erkelens, bekas Kepala Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde. Adapun Mouton & Co. dikenal karena sering menerbitkan buku-buku seni budaya.

Tiga serangkai itu tidak sendirian. Selama proses pengerjaan, mereka bekerja sama dengan W.F. Heinemeyer dan J.E. Romein, ahli geografi Belanda. Keduanya, kata Jaap, dilibatkan karena berpengalaman menyusun edisi revisi atlas Bos pada 1930-an. Atlas Bos adalah atlas sekolah yang sangat terkenal di negeri itu. Terbit sejak akhir abad ke-19, atlas ini sudah dicetak ulang hingga ratusan kali. Nama Bos sendiri diambil dari nama belakang si perancang atlas, yang juga guru sekolah menengah di Negeri Kincir Angin itu.

Dari kolaborasi itu, terbitlah buku Atlas Semesta Dunia pada 1952. Inilah atlas pertama yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia sejak Republik merdeka. Pada tahun yang sama setelah atlas itu muncul, trio Adinegoro, Bachtiar, dan Sutopo-tanpa Heinemeyer dan Romein-juga menerbitkan Atlas Semesta Dunia untuk Sekolah Landjutan.

Dua atlas itu diterbitkan NV Djambatan di Amsterdam. Perusahaan tersebut didirikan Randwijk dan De Koning bersama beberapa penerbit di Belanda empat tahun sebelumnya. Nama Djambatan diambil dari De Brug-Djambatan, yayasan yang didirikan Vereniging Nederland-Indonesia pada 1946 untuk menjembatani ketegangan hubungan Indonesia-Belanda masa itu.

Di Jakarta, Randwijk dan De Koning mendirikan Opbouw-Pembangoenan. Tugas yayasan ini memperluas jaringan penerbitan majalah dan buku. Belakangan De Koning mendirikan cabang NV Djambatan di Jakarta, yang kemudian menjadi cikal bakal PT Penerbit Djambatan pada 1954.

***

KETERTARIKAN Adinegoro pada pembuatan atlas bukan tanpa sebab. "Selain sebagai jurnalis, Ayah mengenyam pendidikan kartografi," kata Anita. Ilmu itu dipelajarinya di Jerman.

Ia merantau ke Eropa pada 1926 setelah merasa tidak cocok dengan ilmu kedokteran yang dipelajarinya di STOVIA. Sebelum tiba di Jerman, dengan naik kapal Tambora milik Totterdamse Lloyd, Belanda, Adinegoro singgah di beberapa negara. Persinggahan itu ditulisnya dalam kisah perjalanan di harian Pandji Pustaka dari 1926-1929.

Di Jerman, pria kelahiran Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 14 Agustus 1904, itu tinggal di Berlin, Muenchen, dan Wuzburg. Satu semester untuk belajar jurnalistik, empat semester mendalami geografi dan kartografi, serta dua semester studi filsafat dan jurnalistik. Empat tahun di Jerman, ia kembali ke Indonesia.

Sejak itu Adinegoro memimpin harian Pewarta Deli di Medan, menjadi Kepala Perwakilan Pemerintah Pusat di Sumatera pada zaman revolusi, dan ikut mendirikan Kedaoelatan Rakjat di Bukittinggi.

Saat kesehatannya ambruk, Adinegoro memutuskan hijrah dari Bukittinggi ke Jakarta. Untunglah di sana ada Adam Bachtiar yang menyediakan paviliun buatnya. Bachtiar memang masih terhitung kemenakan Adinegoro. Ia dilahirkan di Pariaman, Sumatera Barat, 5 Maret 1905. Tamat dari Hoogere Burger School di Pariaman, Bachtiar meneruskan studi ke Amsterdam, mempelajari etnologi. Ia bisa melanjutkan studi karena peran Gerrit Jacob Nieuwenhuis.

Nieuwenhuis saat itu Ketua Dewan Pendidikan di Departemen Pengajaran di Jakarta. "Ia menjadi bapak angkat ayah saya," kata Nasti Mardjono Reksodiputro, 72 tahun, putri kedua Bachtiar.

Pulang dari Belanda, Bachtiar mengajar di Allgemeine Middelbare School di Yogyakarta, pindah sebentar ke Bandung, lalu mengajar calon pegawai negeri di Mosvia, Magelang. Bachtiar kemudian mendirikan sekolah menengah tinggi di Jakarta pada awal pendudukan Jepang. Ia bahkan diam-diam menggelar kegiatan sekolah di rumahnya di kawasan Gondangdia Lama, Jakarta, saat sekolah itu ditutup.

Kecintaannya pada dunia pendidikan mendorongnya ikut terlibat dalam pembuatan Atlas Semesta Dunia. Setelah itu, Bachtiar, yang pernah menjadi anggota Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (kini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), pindah ke Malang menjadi Dekan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru. Perguruan itu kemudian berganti nama menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Kini namanya menjadi Universitas Negeri Malang.

Enam tahun setelah atlas itu terbit, Bachtiar wafat. Ia dikebumikan di pemakaman Samaan, Malang. Adinegoro menyusul sembilan tahun kemudian dan dimakamkan di Karet, Jakarta.

***

JERIH payah Adinegoro dan Bachtiar mencipratkan hasil. Atlas Semesta Dunia itu membawa pengaruh bagi pembuatan atlas generasi selanjutnya. "Atlas ini menjadi referensi," kata Sukwarjono, 63 tahun, Kepala Laboratorium Desain, Konstruksi, dan Analisis Peta Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Atlas itu menjadi atlas pertama buatan orang Indonesia yang berani menunjukkan identitas bangsa.

Sementara pada atlas-atlas sebelumnya penamaan kota dan pulau memakai bahasa Belanda, atlas ini memakai bahasa Indonesia. Misalnya dari Buitenzorg menjadi Bogor, Fort de Kock menjadi Bukittinggi, Celebes menjadi Sulawesi. "Perubahan itu menimbulkan rasa kebangsaan pada masa itu," ujar Yusuf Razak, 68 tahun, salah satu penyusun Atlas Indonesia dan Semesta Dunia (2002).

Yang menarik, perubahan juga tampak dari bagaimana atlas itu memandang dunia. Jaap menilai para penyusun atlas menempatkan Indonesia sebagai pusat: memberikan perhatian lebih buat Indonesia dan memandang dunia dari sudut pandang Indonesia. Atlas itu menunjukkan Indonesia sebagai negara otonom. "Bukan lagi sekadar ekor dari Belanda," katanya.

Ini berbeda dengan atlas pendahulu yang melihat dunia dari sudut Eropa atau Amerika, dengan mengesampingkan Asia. Padahal Asia masa itu sudah berbeda ketimbang sebelumnya. "Asia sudah mempunyai peranan di dunia dan Indonesia mengambil kedudukan yang penting dalam lingkungan Asia," demikian kecap dapur dari tim redaksi atlas itu.

Atlas itu juga tak cuma menonjolkan gambar, tapi memuat keterangan soal bahan mentah, hasil bumi, industri, perhubungan, serta flora-fauna. Bahkan atlas tersebut menampilkan teks panjang-lebar soal sejarah, etnologi, sosiologi, ekonomi, dan politik tiap negara-disertai keterangan statistik dan gambar-gambar.

Noorhadi Rahardjo, kolega Sukwarjono dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, mengatakan visualisasi data geografi Indonesia dalam bentuk atlas yang disertai deskripsi itu sangat brilian-terlebih untuk ukuran masa itu. "Sayang, kenapa atlas yang bagus itu tidak pernah dicetak ulang," kata Jaap menambahkan.

(98) Atlas Indonesia
Penerbit: N.V. Djambatan, Jakarta (1952)

Lawatan ke Pelosok Negeri

SEKELOMPOK wartawan melakukan lawatan ke Sumatera, Singapura, hingga Malaysia pada 1947. Mereka dipimpin seorang pegawai tinggi Departemen Penerangan Republik Indonesia, Parada Harahap. Muhammad Radjab, wartawan kantor berita Antara, kemudian menuliskan perjalanan itu ke dalam sebuah buku, Tjatatan di Sumatera.

Buku itu diterbitkan Dinas Penerbitan Balai Pustaka dan dilansir pertama kali pada 1949. Bentuknya laporan perjalanan, lengkap dengan tanggal peristiwa. Selain Radjab, ikut serta Suardi Tasrif dari harian Berita Indonesia dan Rinto Alwi dari koran Merdeka. Mereka sudah menuliskan laporan perjalanan di koran masing-masing.

Radjab dalam pengantar bukunya menyebutkan, meski tak resmi berbagi tugas, masing-masing penulis melakukan pengamatan yang berbeda. Suardi Tasrif, misalnya, mengamati soal ekonomi, sementara Rinto Alwi lebih berfokus pada masalah politik. Ia sendiri lebih memperhatikan kondisi masyarakat serta kebiasaan dan kehidupan rakyat, yang baru saja merdeka.

Program lawatan wartawan ini, menurut tokoh pers nasional Soebagijo Ilham Notodidjojo, dilakukan tidak hanya ke Sumatera, tapi juga ke daerah lain. Tujuannya agar masyarakat di suatu daerah mengetahui kondisi daerah lain. "Sehingga menumbuhkan rasa nasionalisme di antara masyarakat Indonesia," ujarnya.

Buku setebal 227 halaman ini bercerita tentang segala hal yang disaksikan, dirasakan, dan dipikirkan penulis dalam perjalanannya. Misalnya kondisi alam dan adat istiadat seperti tradisi kawin paksa di Bukittinggi. Juga kebiasaan sogok-menyogok yang dikenal sebagai wang ajam yang dilakukan polisi dengan pedagang pembawa hasil bumi. Sogokan ini ditemukan dalam perjalanan antara Bukittinggi dan Pekanbaru.

Radjab juga menyempatkan diri berdialog dengan rakyat kecil serta para pemimpin lokal dan tokoh politik di daerah-daerah itu. Pandangan mereka ternyata amat beragam. Masyarakat Tapanuli, misalnya, meminta pembesar Sumatera diberi keleluasaan menjalankan aturan dan politik sendiri. Ini terkait dengan ketidaksabaran mereka atas sikap pemerintah pusat yang dinilai tidak memiliki ketegasan dalam setiap perundingan dengan Belanda.

Juga ada perbandingan sikap dan semangat orang Sumatera dengan masyarakat Singapura dan Malaysia, yang dinilai lebih berdisiplin dan bekerja keras. Masyarakat Indonesia dinilai masih suka bermalas-malasan, dan banyak kebiasaan buruk serta paham keliru yang harus dibuang.

Pendek kata, buku ini memberikan gambaran masyarakat Indonesia di sudut yang jauh dari Jakarta pada masa awal setelah Proklamasi.

(97) Catatan di Sumatera
Penerbit: Balai Pustaka, Jakarta (1949)

Mati Ketawa Keliling Indonesia

SEBUAH tulisan Pramoedya Ananta Toer di koran Bintang Timur pada 1963 menancap di benak Gerson Poyk. Pram, pengasuh pojok kebudayaan Lentera, menganjurkan kepada mereka yang berminat menjadi penulis agar memiliki jiwa nasionalis. "Caranya, kenali Indonesia," kata Gerson, kini 77 tahun.

Maka Gerson pun berhenti mengajar di sebuah sekolah menengah pertama di Ternate, Maluku selain karena gaji guru tidak pasti. Gerson menjajal profesi baru sebagai wartawan Sinar Harapan. Menjadi jurnalis, pikirnya, punya kesempatan mengenali dan berkeliling Indonesia. Tapi hanya tujuh tahun ia bertahan. Alumnus sekolah guru agama di Surabaya ini kemudian menjadi wartawan lepas.

Mulai 1970, tulisan perjalanan Gerson muncul di banyak media. Ia lebih bebas menyambangi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi wartawan. Gerson melaporkan pelbagai hal: dari kisah dua gadis miskin yang menjadi pelacur di Jatiluhur, turis mabuk di Bali, petani karet di sekitar Sungai Kapuas yang terimbas embargo ekonomi Malaysia, hingga upacara adat di Merauke.

Tulisannya ringan dan jenaka, seringan hatinya ketika mengunjungi tempat-tempat itu. Ia tak pernah merencanakan kepergian dengan susah. Tiba-tiba ingin pergi ke Papua, berangkatlah ia ke sana, tak peduli kantong cekak. Gerson biasa mengembara tanpa sepeser pun uang. Ia pernah menjual jaket untuk ongkos pulang dari Bojonegoro, Jawa Timur.

Menurut Gerson, ada saja orang atau lembaga yang memberikan sangu untuk jalan-jalan. Sjam, misalnya. Pemilik majalah Selekta di Jakarta itu selalu berbaik hati memberinya ongkos. Gerson menebusnya dengan beberapa tulisan. Pada 1970-an, honor satu artikel Rp 3.000, setara dengan 37 kilogram beras.

Pada 1986, Gerson memboyong Hadiah Adinegoro, penghargaan tertinggi bidang jurnalistik kala itu. "Perjalanan dari Padang Sabana Timor dan Sumba" yang dimuat majalah Sarinah, 13 Oktober 1986, membuat pria kelahiran Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, itu menyisihkan 37 karya tulis lainnya. Hadiah uang yang dia peroleh, ditambah hadiah-hadiah sastra dan beasiswa ke Amerika, dipakai untuk membeli tanah dan rumah.

Kritikus sastra Hans Bague Jassin menilai Gerson sebagai penulis yang memelopori nilai-nilai kedaerahan. Cerita pendek atau novelnya diilhami dan menyajikan kisah yang dekat dengan hidup sehari-hari, seperti Sang Guru, Matias Akankari, atau Di Bawah Matahari Bali.

Wartawan dan penyair Eka Budianta menganggap catatan perjalanan Gerson sebagai reportase tentang Indonesia paling penting hingga sekarang. Dalam soal ini, Eka menyejajarkan Gerson dengan Pramoedya Ananta Toer. "Gerson, lewat tulisan-tulisannya, telah membuat kita jatuh cinta kepada Indonesia dan pulau-pulaunya," katanya.

Menurut Eka, dibanding penulis lain, dulu atau sekarang, Gerson paling menjiwai dalam menulis budaya lokal. Tulisannya tentang Maluku atau Sumbawa mampu membawa pembaca membayangkan dua provinsi yang kala itu masih minim publikasi. "Ia membuka wawasan kita terhadap keadaan Indonesia timur," kata Eka.

Selain dengan gaya tulis yang renyah, Gerson menyampaikan laporannya dari sudut pandang personal plus pengalaman pribadi sebagai bumbu. Ia, yang hidup di Ternate, misalnya, menulis budaya Maluku dengan menyisipkan kepedihan seorang guru miskin. Di Bali, ia mereportase aktivitas turis dan menghubungkannya dengan persilangan budaya.

Kecuali beberapa cerpen dan novel, reportase-reportase Gerson itu belum dijilid. Di ruang kerjanya yang kumuh di Depok, bapak tiga anak itu menyimpan guntingan koran dan majalah yang memuat tulisannya. Dengan biaya sendiri, hasil berkebun dan menjual obat penurun kolesterol, Gerson berencana menerbitkan tulisan-tulisan di bawah judul "Mati Ketawa Keliling Indonesia".

Di usia senja, ia masih bugar dan terus menulis. Ceritanya yang paling anyar soal Pulau Miangas, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Timur, yang ia kunjungi saat menghadiri undangan sebuah kelompok teater. "Begitulah, karena Abang Pram, saya jadi pengembara seumur hidup," katanya sambil mengguncang bahu.

(94) Perjalanan Keliling Indonesia Publikasi: Media cetak nasional dan daerah (1970-1980-an)

Sepotong Sejarah Jakarta

CETAKAN pertama buku setebal 116 halaman ini diluncurkan pada 1977 oleh penerbit PT Dunia Pustaka Jaya. Sejak awal, Rosihan Anwar, sang penulis, membidik pembaca dari kalangan siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Tak aneh bila bahasa dan penyajiannya dibuat mudah dan tidak berbelit-belit. "Font dan gambarnya juga khas buku untuk anak," ujar wartawan senior Budiman S. Hartoyo, yang juga kolektor buku tua.

Sang penulis, yang saat itu wartawan harian Asia Raya, lalu koran Merdeka, merekam kejadian penting di bulan-bulan pertama setelah Proklamasi. Termasuk beberapa kejadian yang tidak sempat dilaporkan di korannya dulu. "Sensor Jepang saat itu sangat ketat," kata Rosihan.

Kejadian pada kurun 1945-1946 itu dimulai dengan keadaan Jakarta sehari setelah Proklamasi dibacakan. Kala itu Jakarta gelap-gulita karena ada ketentuan kusyuu keiho atau pemadaman lampu. Kabar kekalahan Jepang dari Sekutu tak tersiarkan, demikian pula berita Proklamasi yang baru saja dibacakan duet Soekarno-Hatta.

Buku ini juga bercerita tentang rencana rapat raksasa di Lapangan Ikada, yang sekarang menjadi Lapangan Banteng, sebagai unjuk kekuatan bahwa Indonesia benar-benar telah merdeka dan memiliki pemerintahan berdaulat. Ada pula kisah bentrokan pemuda dengan Netherlands Indies Civil Administration (NICA), yang mempersenjatai bekas serdadu Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) dan menteror rakyat. Termasuk kisah Maklumat 1 November 1945 yang menyerukan pendirian partai-partai politik.

Berikutnya, Rosihan mereportasekan lawatan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir keliling Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk memperkenalkan diri kepada rakyat. Kunjungan itu juga digunakan Soekarno untuk memperkenalkan kondisi Indonesia kepada sejumlah wartawan asing.

"Buku ini berisi reportase yang baik dan sangat hidup," ujar Budiman. Selain menambah pengetahuan, buku ini diharapkan membangkitkan rasa kebangsaan bagi pembacanya.

(96) Kisah-kisah Jakarta
Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta (1977)

Tirto dan Koran Pergerakan


GEDUNG Indonesia Menggugat, Bandung, 7 Desember 2007. Artis Dewi Yull tampak terharu menerima kenang-kenangan Panitia Seabad Pers Kebangsaan. Cendera mata tersebut berupa poster buyutnya, R.M. Tirto Adhi Soerjo, yang menegaskan peran tokoh itu di kancah pergerakan nasional Indonesia.

Tirto Adhi Soerjo alias Djokomono merupakan orang pribumi pertama yang mendirikan perusahaan pers. Surat kabarnya, Medan Prijaji, dianggap sebagai surat kabar pertama Indonesia yang pendanaan, pengelolaan, percetakan, penerbitan, dan wartawannya orang Indonesia asli. "Pada masa itu, surat kabar biasanya dimiliki dan dikelola oleh orang Tionghoa, Belanda, atau Indo Belanda," kata wartawan senior Rosihan Anwar.

Koran ini terbit pertama kali pada Januari 1907 dalam bahasa Melayu. Tapi perusahaan penerbitnya, NV Javaansche Boekhandel en Drukkerij en Handel in Schrijfbehoeften, didirikan pada 1904. Perusahaan itu berkantor di Jalan Naripan, Bandung, dengan modal awal 75 ribu gulden. Saat itu, Tirto baru berusia 24 tahun.

Sejak terbitan pertamanya, ia mengusung delapan asas: memberikan informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, tempat mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi dan mengorganisasi diri, membangun dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan.

Di bawah logo Medan Prijaji, tercantum motonya: "Ja'ni swara bagi sekalijan radja2, bangsawan asali dan fikiran dan saoedagar2 anaknegri. Lid2 Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saoedagar bangsa jang terperentah lainnja jang dipersamakan dengan anak negri di seloeroeh Hindia Olanda."

Dalam waktu singkat, Medan Prijaji beroleh simpati. Mulai 5 Oktober 1910, koran ini terbit tiap hari kecuali Jumat, Ahad, dan hari raya. Pelanggannya mencapai 2.000 orang. Motonya pun berubah menjadi "Orgaan boeat bangsa jang terperentah di H.O. Tempat akan memboeka swaranya Anak-Hindia"-sebuah semboyan yang cukup berani untuk masa itu.

Lewat media tersebut, Tirto melancarkan kritik pedas atas ketidakadilan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Terutama tindakan para kontrolir Belanda terhadap rakyat. Akibatnya, ia dibuang ke Pulau Bacan, Maluku Utara, dan Lampung.

Tirto, menurut Soebagijo Ilham Notodidjojo, adalah tokoh pergerakan yang paham fungsi pers saat itu. Menurut dia, ada tiga alat perjuangan yang dipergunakan ketika itu: pendidikan, olahraga, dan pers.

Di zaman itu, untuk mendirikan perusahaan pers, jelas diperlukan keberanian. "Berani ngutang dan berani menghadapi delik pers," kata Soebagijo. Soalnya, saat itu pemerintah Belanda sudah menerapkan pasal-pasal hatzaai artikelen atau pernyataan menebar kebencian.

Tak cuma berjuang melalui tulisan, Tirto dengan Medan Prijaji juga mengadvokasi rakyat yang tersangkut masalah hukum. Maka layak bila sekarang ada sekelompok orang yang hendak mengajukan Tirto Adhi Soerjo dan Medan Prijaji sebagai tonggak pers nasional.

(95) Koran Medan Prijaji (1907-1912)

Cerita dari Tanah Dingin

BERAPA jauhkah jarak Marseille-Paris? Pada 1926, ketika bangsa Indonesia sedang sibuk bergerak", itu bukan pertanyaan mudah. Bacaan terbatas. Koran berbahasa Indonesia bisa dihitung dengan jari. Orang yang pernah menginjak Eropa pun tak banyak.

Tapi pembaca harian Pandji Pustaka tahu: Cuma sejauh Banjarmasin-Long Iram di Kalimantan." Ini kata Adinegoro, yang ketika itu sedang berkelana keliling Eropa. Barangkali ada orang di Long Iram atau Bandjarmasin jang tertawa membatja ini, akan tetapi demikianlah jang sebenarnja," tulisnya, dalam ejaan asli.

Djamaluddin Adinegoro Datuk Maharadjo Sutan bukanlah wartawan Pandji. Dia mahasiswa kedokteran di STOVIA yang gemar menulis. Mula-mula dia menulis untuk majalah Tjahaja Hindia, kemudian Pandji Pustaka.

Kegemaran menulis... membuat Djamaluddin menjadi gelisah," tulis Soebagijo I.N.wartawan Penyebar Semangat, Surabaya dalam bukunya: Adinegoro, Pelopor Jurnalistik Indonesia. Pada pertengahan 1926, Adinegoro tiba-tiba memutuskan merantau ke Tanah Dingin" (sebutan Eropa waktu itu) untuk belajar jurnalistik. Kala itu usianya baru 22 tahun.

Kisah perjalanan ke Eropa inilah yang diceritakan Adinegoro secara bersambung di harian Pandji Pustaka sepanjang 1926-1929. Bukan sekadar menulis laporan pandangan mata, dia mengaitkan pengalamannya dengan sejarah dunia dan membandingkan itu dengan Indonesia.

Dia berangkat naik kapal Tambora milik Rotterdamse Lloyd, Belanda, dari Pelabuhan Tanjung Priok. Dari sana, Tambora singgah di lebih dari dua lusin kota, berawal dari Singapura, lalu ke Medan, Sabang, Kolombo, Aden, Port Said, hingga Marseille, Prancis.

Di Singapura, misalnya, Adinegoro takjub dengan bandarnya yang meriah. Disini segalanja lebih murah, sebab Singapura ialah satu pelabuhan merdeka," tulisnya. Segala barang dagangan disini dibebaskan dari bia. Pakaian misalnja djauh lebih murah dari di Djawa."

Tujuan Adinegoro adalah Jerman. Namun, setiba di Marseille, dia memilih naik kereta melalui Belanda.

Di Paris, Adinegoro bertamu ke Mohammad Nazir, belakangan menjadi Duta Besar Indonesia di Prancis. Nazir memberi tahu dia ada profesor yang tengah menerjemahkan puisi Mohammad Yamin berjudul Tanah Air ke dalam bahasa Prancis.

Kala itu cuma ada beberapa puluh pemuda Indonesia yang belajar ke Eropa, kebanyakan di Belanda. Mereka tergabung dalam Indische Vereniging belakangan berubah menjadi Perhimpunan Indonesiayang pada masa itu dipimpin Mohammad Hatta.

Ketika singgah di Belanda, dia bertemu dengan sebagian dari mereka. Menurut catatan Adinegoro, kebanyakan pemuda Indonesia belajar di Amsterdam, beberapa di Utrecht. Adapun Utrecht digambarkan Adinegoro seperti Palembang. Banjak sungai-sungai ketjil dan terusan jang dilajari oleh sampan-sampan waktu pasang," tulisnya.

Cerita Adinegoro yang hidup dan kaya akan wawasan sejarah begitu digemari. Bahkan, menurut Soebagijo, anak-anak pun menyukainya. Ada bocah 11 tahun rela menyisihkan uang sakunya sekadar untuk berlangganan Pandji Pustaka. Agar dengan demikian dia dapat mengikuti cerita perlawatan Adinegoro di benua Barat," tulis Soebagijo dalam bukunya.

Pada 1932, setahun setelah Adinegoro kembali ke Jakarta, Balai Pustaka menerbitkan kisah-kisah di Pandji itu dalam buku Melawat ke Barat. Saya ingat bukunya laku keras," kata wartawan senior Rosihan Anwar. Melawat ke Barat, menurut Rosihan, memelopori sistem wartawan koresponden di media. Waktu itu ada juga orang yang pernah ke Barat, tapi hampir tak ada yang menulis cerita perjalanan dari luar," ujarnya.

Di Jakarta, Adinegoro sempat menjadi wartawan Pandji, lalu ke Medan menakhodai harian Pewarta Deli. Terakhir dia memimpin Persbiro Indonesia hingga kantor berita itu digabung dengan Antara pada 1962. Dia meninggal pada 1967 dan dimakamkan di Karet, Jakarta.

(93) Melawat ke Barat Publikasi: Pandji Pustaka, Jakarta (1927-1929)

Dari Angkot hingga Asimilasi

- Apa perbedaannya antara Orde Lama dan Orde Baru sekarang?

+ Ada perubahan, ada kemajuan, tapi tidak banyak.


DIALOG imajiner ini terdapat pada alinea awal Kompasiana edisi 31 Juli 1967. Ketika itu, Orde Baru masih balita. Rubrik itu menyoal keputusan Soeharto menunjuk Roeslan Abdulgani sebagai wakil tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Padahal banyak pihak tak setuju.

Jadi, kesimpulan kita ialah bahwa dulu kita bungkem, pemerintah jalan terus," tulis kolom itu. Sekarang kita boleh bersuara, tapi pemerintah berjalan terus juga."

Lugas dan kritis, itu ciri Kompasiana, yang pertama kali muncul di harian Kompas pada 4 April 1966. Penulisnya P.K. Ojong, pendiri Kompas selain Jakob Oetama.

Pak Ojong ingin menulis rubrik itu, melanjutkan tulisannya di Star Weekly," kata Jakob, kini Pemimpin Umum Kompas. Star Weekly, koran asuhan Ojong, diberangus Soekarno pada Agustus 1957. Mungkin itu sebabnya, pada edisi perdana, Kompasiana membahas kebebasan pers.

Mengambil konteks tahun-tahun awal peralihan kepemimpinan nasional dari Soekarno ke Soeharto, Kompasiana membahas berbagai hal. Gaya tulisannya yang sederhana, kadang jenaka, tapi kritis, membuat rubrik itu cepat populer dan berpengaruh.

Masalah yang tampak sederhana bisa jadi serius di mata Ojong. Misalnya soal minimnya angkutan umum bagi masyarakat pinggiran Jakarta. Kalau Anda mau makan hati, berdirilah di pinggir Jalan Jatinegara sambil menanti kendaraan umum yang mesti membawa Anda ke Jakarta Kota," tulisnya pada 12 Mei 1966. Jaraknya cuma kira-kira 12 km, tapi sengsaranya tak seimbang."

Biaya pembuatan kartu tanda penduduk yang melambung hingga Rp 10 padahal aturan resminya cuma Rp 2,5 juga pernah dia singgung.

Meski mendukung Soeharto dan sering mengkritik Partai Komunis Indonesia, perlakuan Orde Baru terhadap bekas anggota partai itu membuat Ojong gerah. Dalam keadaan normal, setiap manusia Indonesia cuma mengenal empat status (hukum)," tulisnya pada 15 Juni 1968. Tapi sekarang... ada status eks tahanan."

Ojong banyak menggali gagasan dalam diskusi dengan temannya dari berbagai kalangan, antara lain Mohammad Roem, Soedjatmoko, dan Mochtar Lubis. Dia juga dekat dengan aktivis mahasiswa, seperti Soe Hok Gie.

Saya dua kali diundang makan ke rumahnya bersama Soe Hok Gie," cerita Aristides Katoppo, pendiri harian Sinar Harapan. Ketika itu, Aristides baru menjadi wartawan. Ojong selalu mengajak bicara tentang masa depan Indonesia."

Menurut Aristides, Kompasiana berisi" karena Ojong menyisipkan perspektif sejarah. Misalnya, ketika Presidium Kabinet Ampera menetapkan mulai 27 Desember 1966 semua warga negara Indonesia keturunan harus menanggalkan nama Tionghoa, Kompasiana berangkat dari Napoleon. Setelah berkuasa, Napoleon mewajibkan warganya menggunakan nama keluarga. Toh, transisi itu mudah karena orang Eropa punya tradisi menggunakan nama tempat, pekerjaan, serta warna kesukaan sebagai nama belakang.

Tapi tidak di Indonesia, menurut Ojong. Sebab, ada empat tradisi yang mempengaruhi pemberian nama: kebudayaan asli, Hindu, Arab/Islam, dan Eropa/Kristen. Maka itu dengan ini kami mengundang orang-orang yang lebih pandai untuk membantu kami memberi penerangan dan petunjuk," tulisnya di paragraf akhir.

Ojong pendukung asimilasi. Nama aslinya, Peng Koen Auwjong, dia ubah menjadi Petrus Kanisius Ojong, disingkat P.K. Ojong. Baginya, pembedaan warga negara menurut ras adalah garis" usang warisan kolonial.

Mochtar Lubis pernah membuat sebuah tajuk tentang sahabatnya itu di harian Indonesia Raya. Ketika itu, sebuah koran di Jakarta memojokkan Ojong hanya karena dia keturunan Tionghoa. Pak Mochtar marah dan menulis, Ojong jauh lebih Indonesia daripada Anda yang mengaku orang Indonesia asli," cerita mantan wartawan harian Indonesia Raya, Atmakusumah Astraatmadja.

Sayang, setelah 8 Februari 1971, Kompasiana menghilang. Jakob tak ingat pasti mengapa Ojong mengakhiri rubrik itu. Mungkin dia sibuk urusan bisnis Kompas," ujarnya.

P.K. Ojong meninggal pada 31 Mei 1980, di usia 59 tahun. Setahun kemudian, Gramedia menerbitkan kumpulan artikel Kompasiana dalam bentuk buku setebal 813 halaman. Judulnya Kompasiana: Esei Jurnalistik tentang Berbagai Masalah.

(92) Kompasiana Publikasi: Harian Kompas, Jakarta (1966-1971)

Menghadirkan Indonesia

nilah sekelompok wartawan yang menulis tentang Indonesia yang nyata: Tirto Adhi Soerjo, Adinegoro, Rosihan Anwar, Mohammad Radjab, P.K. Ojong, dan Gerson Poyk. Di ujung pena mereka, Nusantara menjadi tanah yang hidup dengan segala pesona dan karut-marutnya--bukan sekadar gugusan pulau yang membisu.

Inilah juga pelopor pertama pembuat atlas berbahasa Indonesia, ensiklopedia berbahasa Indonesia, dan kamus umum bahasa Indonesia. Mereka adalah Adinegoro, Adam Bachtiar, Sutopo, Todung Sutan Gunung Mulia, dan Wilfridus Joseph Sabarija Poerwadarminta.

Jagat Buku Islam dan Kebangkitan Nasional

oleh: Haidar Bagir

"MESKIPUN sains bisa membawa kita ke arah yang berlawanan, kemungkinan amat besar orang akan terus berdoa sampai akhir dunia, kecuali jika tabiat mental mereka berubah ke arah yang tak bisa kita ketahui sekarang. Dorongan untuk berdoa adalah suatu konsekuensi niscaya dari fakta bahwa, meskipun lubuk paling dalam dari diri-diri empiris manusia adalah berupa diri yang bersifat sosial, ia hanya dapat menemukan Socious (kawan agung)-nya yang memuaskan hati di suatu dunia ideal. Demikian psikolog dan filsuf Amerika Serikat, William James, meramalkan kehidupan manusia dalam bukunya tentang pengalaman religius yang kini telah menjadi klasik, Varieties of Religious Experience.

Mungkin cuma sebuah kebetulan bahwa buku tersebut terbit pada 1904, hanya empat tahun sebelum didirikannya Boedi Oetomo, yang diyakini sebagai momentum awal kebangkitan nasional Indonesia.

Kenyataannya, seabad lebih dari itu, tabiat mental manusia tetap tidak berubah-meski sains telah menjadi jauh lebih digdaya dalam semua bidang kehidupan mereka, dan meskipun ia seharusnya makin menggoyahkan keimanan manusia kepada religiusitas yang "tidak saintifik". Tidak seperti James, sosiolog sekaliber Peter Berger pun harus mengoreksi pandangannya tentang agama. Setelah melihat prospek agama akan meredup, dia pun beberapa tahun lalu menerbitkan buku suntingannya yang berjudul The Desecularisation of the World. Hampir di seluruh dunia, agama dan spiritualitas dinyatakannya menunjukkan gejala kebangkitan kembali.

Paradoksnya, justru kemakmuran ekonomi-yang diciptakan antara lain oleh sains dan teknologi modern-telah menyadarkan orang betapa kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ternyata tak terletak di situ. Justru ketidakpuasan dan kegelisahan, yang tadinya tersamarkan oleh kenyataan bahwa mereka belum makmur, menjadi terekspos setelah kemakmuran yang dimimpikan itu tercapai.

Bukan hanya Berger, berbagai survei dan penelitian memperkuat kesimpulan ke arah ini. Sebagai contoh, majalah Time beberapa waktu lalu malah secara terus terang mengontraskan temuannya tentang kegairahan baru yang mencolok di kalangan warga Amerika Serikat kepada agama dengan apa yang ditulis oleh majalah yang sama pada 1960-an. Time sendiri menunjukkan bahwa ramalannya tentang prospek buram agama ternyata sama sekali salah.

Bagaimana dengan masyarakat Indonesia? Saya yakin bahwa kita di Indonesia sama sekali tak terbebas dari gejala kebangkitan agama-dalam hal ini Islam-dan kegairahan baru terhadapnya. Mungkin kita hanya tertinggal 1-2 dekade dari Amerika Serikat dan Eropa. Dan tampaknya ketertinggalan itu juga akibat ketertinggalan di bidang yang mendorong kegairahan baru kepada agama dan spiritualitas di wilayah-wilayah tersebut-yakni kemakmuran ekonomi. Hingga lahirlah kelompok yang oleh Nurcholish Madjid disebut sebagai kelas menengah baru muslim. Kelompok yang mulai muncul secara menonjol pada pertengahan 1970-an ini adalah generasi pertama anak-anak kaum santri yang telah mengecap pendidikan modern.

Fenomena inilah, di antara beberapa sebab lain, yang merupakan faktor pendorong lahirnya Penerbit Pustaka Salman-sebagai kelanjutan penerbitan majalah bulanan Salman, yang sempat disebut-sebut sebagai Prisma-nya Islam. Saya berani menyebut penerbit yang lahir di lingkungan Masjid Salman Institut Teknologi Bandung-masjid yang mengalami langsung gejala lahirnya kelas menengah baru muslim-ini sebagai penerbit Islam pertama yang memperkenalkan buku-buku dengan pilihan tema, bahan, dan gaya penyajian modern. Yakni buku-buku yang telah berhasil keluar dari sekadar persoalan fikih dan pembahasan tradisional-tekstual lainnya menuju suatu dialog dengan kemodernan dan pemikiran-pemikiran inovatif-rasional, termasuk yang berasal dari sumber-sumber non-Islam (Barat).

Sebelum masa itu, hanya ada segelintir penerbit yang menerbitkan, lebih segelintir lagi, buku Islam seperti itu-yang belum sepenuhnya memenuhi semua syarat untuk disebut penerbit modern. Bulan Bintang dan Tintamas mungkin dapat disebut sebagai penerbit yang paling menonjol. Masa-masa di antara awal abad ke-20-yakni masa-masa kebangkitan nasional itu-dan paruh pertama abad ke-20 hanya menyaksikan amat sedikit karya seperti ini lahir dari pikiran segelintir elite muslim. Mereka umumnya tokoh yang sempat mengecap pendidikan modern, seperti Haji Agus Salim, Mohammad Roem, Syafruddin Prawiranegara, Soekarno, dan Hatta. Juga H.O.S. Cokroaminoto dan Mohammad Natsir. Tak pernah negeri ini, hingga sebelum 1970-an itu, menyaksikan munculnya-dan kemudian bermunculannya-penerbit Islam dengan sifat-sifat seperti ini, yang secara produktif mengisi pasar bebas pemikiran di negeri kita.

Sayangnya, Penerbit Pustaka Salman tak bernapas panjang. Karena itu, saya tak bisa menghindar dari keharusan menyebut Mizan sebagai pancang peneguh tren baru penerbit Islam modern ini. Selain menyajikan buku-buku bertema, berbahan, dan bergaya penyajian modern-ditambah dengan rancangan dan kemasan yang lebih sesuai dengan selera kelas menengah baru muslim itu-penerbit ini memperkenalkan lebih jauh pemikir-pemikir muslim berpendidikan Barat, seperti Ali Syari'ati, Fazlur Rahman, Muhammad Iqbal, Seyyed Husain Nasr, dan Ziauddin Sardar. Yang tidak kalah penting, Mizan pun banyak memperkenalkan karya penulis nonmuslim (Barat) tentang Islam, termasuk karya orientalis. Sebenarnya, meski mungkin tidak benar-benar terdidik di Barat, lebih banyak karya cendekiawan muslim dengan sifat yang sama diterbitkan juga. Termasuk karya Abul A'la al-Maududi, Murtadha Muthahhari, serta kelompok ulama Ikhwan yang lebih terbuka, seperti Muhammad Ghazali dan Yusuf Qardhawi.

Yang paling penting dalam konteks ini tentulah penerbitan karya-karya pemikiran cendekiawan muslim Indonesia. Untuk pertama kalinya tulisan-tulisan Nurcholish Madjid diterbitkan. Malah judul buku pertama Cak Nur hasil suntingan Agus Edi Santoso dan tim Mizan ini-Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan-belakangan masuk kosakata standar wacana pemikiran Islam di Indonesia dan dianggap mencirikan pemikiran Cak Nur. Selain buku Cak Nur lain, Mizan menerbitkan pula pemikiran Harun Nasution, M. Dawam Rahardjo, Jalaluddin Rakhmat, M. Amien Rais, Kuntowijoyo, Ahmad Syafi'i Ma'arif, M. Quraish Shihab, dan sebagainya.

Kini jagat buku Islam di negeri kita sudah jauh lebih berkembang. Hampir-hampir tak ada lagi ruang, dalam spektrum luas kategori tema buku, yang tak dimasuki oleh puluhan penerbit Islam baru yang bertumbuhan di negeri ini. Buku pemikiran yang inovatif dan tak jarang berat serta masalah agama yang serius masih tetap banyak diterbitkan. Maka diperkenalkanlah pemikir-pemikir modern, bahkan postmodern: Hassan Hanafi, 'Abid al-Jabiri, Muhammad Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Abdul Karim Soroush, dan banyak lagi lainnya. Dari dalam negeri ada Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, M. Amin Abdullah, Mulyadhi Kartanegara, dan sebagainya. Juga ada novel-novel populer, buku-buku anak, serta buku-buku self-help.

Semuanya itu tampak amat akomodatif terhadap berbagai sumber dan konteks budaya yang tak bisa dibilang Islam, dan tak jarang ditulis oleh trainer-trainer muslim berpendidikan Barat, seperti Akram Ridha dan Ibrahim el-Fikky. Ada juga Amru Khalid dan A'idh al-Qarni yang, meski tidak berpendidikan Barat, karya-karyanya menampilkan ciri-ciri buku self-help Barat. Seabad setelah negeri muslim ini mencanangkan kebangkitan nasional, buku-buku Islam berkembang benar-benar seperti "cendawan di musim hujan".

Inilah suatu perkembangan yang membesarkan hati, kalau saja pemikiran dan praktek Islam yang diwakilinya dapat tetap memelihara sifat modern, rasional, dan terbuka dari agama ini. Dengan menjauhkan diri dari eksklusivisme, ia dapat benar-benar berdialog serta hidup berdampingan secara damai dan saling memperkaya dengan semua kultur, dan agama, yang tumbuh di negeri ini. Semangat zaman tampaknya akan berpihak pada kecenderungan seperti ini. Dengan demikian, ada harapan besar bahwa Islam dan buku-buku Islam di negeri ini akan berperan positif dalam menjamin kelanjutan kebangkitan dan tegaknya nation Indonesia yang multikulturalistik, maju, dan damai, tanpa kehilangan identitas-religiusnya.

Haidar Bagir, Kolumnis dan penerbit
(89) Wiro "Anak Rimba Indonesia"
Penerbit: Liong, Semarang (1956)

SAYA membaca Wiro kira-kira mulai kelas tiga sekolah rakyat. Pada 1957, saya membaca komik itu sampai jilid 10. Saya menangis ketika satu per satu hewan sahabat Wiro tewas ditembak Jepang.

Saya dan teman-teman sekelas menganggap Wiro sebagai Tarzan Indonesia. Tapi, dibandingkan dengan Tarzan, menurut saya, Wiro punya kelebihan. Gambarnya bagus, seperti gambar orang Indonesia. Saya dan teman-teman merasa lebih akrab.

Waktu itu komik dalam negeri bisa bersaing dengan komik luar negeri seperti Tarzan, Roy Rogers, Phantom, Rip Kirby, Superman, atau Flash Gordon. Saya lupa apakah komik luar negeri menjelang akhir 1950-an dilarang atau tidak. Seingat saya, saat itu memang mudah mendapatkan komik dalam negeri.

Bambang Bujono, wartawan senior dan seniman.

(90) Keulana
Penerbit: Firma Harris, Medan (1959)

TAGUAN Hardjo tak asing bagi saya. Ketika berumur delapan tahun, saya membaca karyanya. Sepulang sekolah, saya sempatkan diri menyambangi taman baca Persewaan Indah di kawasan Pakualaman, Yogyakarta. Di situlah kliping komik Taguan Hardjo dari sebuah koran tersusun. Saya lupa nama korannya. Komik utuhnya sangat sulit didapat walaupun sudah diterbitkan secara utuh.

Sungguh inspiratif tokoh dalam komik Taguan. Pendekar itu menjadi teladan bagi saya. Bukan cuma gemar mengembara, kejantanan pendekar ditunjukkan melalui nilai-nilai kejujuran yang diajarkan.

Komik Keulana baru saya baca dua tahun belakangan. Saya tertarik meriset komik itu karena memang hebat. Bagi saya, komik Taguan ajaib. Seperti relief, dan panelnya (bagian cerita) selalu selesai. Ia memiliki kemampuan seni gambar hampir sempurna. Detail dalam melukis perkampungan serta karakter orang sungguh eksotis. Ada sisi romantis alam indah permai dan laga aksinya yang sadistis.

Seno Gumira Ajidarma, penggemar komik.

(91) Matinya Seorang Petani
Penerbit: Majalah Indonesia (1955)

DI tangan Agam Wispi, pesan politik atau ideologi tidak tinggal sebagai slogan-slogan mentah yang kehilangan daya seperti batu apung yang melayang ringan. Pesan politik bukan saja menjadi artistik, tapi juga menjadi lontaran batu granit tajam. Wispi adalah satu dari sedikit seniman Lekra yang mampu memadukan mutu karya dengan ideologi secara pas.

Di Lekra, perdebatan internal tentang bagaimana melahirkan karya realisme sosialis tak pernah kunjung henti. Wispi termasuk pemimpinnya di "lapangan", bersama tokoh seniman lain seperti Amarzan Loebis dan Putu Oka Sukanta.

Karya yang cuma politik atau ideologi tertentu sering kali ditampik di "lingkaran dalam", secara diam-diam atau terang-terangan. Misalnya, karya penyair dadakan dari kalangan pemimpin sering dipertanyakan kelayakan pemuatannya di lembar kebudayaan. Wispi salah satu yang melakukannya dengan lantang. Wispi menganggap ada kecenderungan penggampangan dalam menerapkan ideologi dan artistik dalam sebuah karya.

Intensitas kesenimanan Wispi mirip Chairil Anwar. Chairil pembaru, dan Wispi, yang dalam hal berpakaian jauh lebih necis ketimbang Chairil, juga pembaru.

T. Iskandar Thamrin, sastrawan.

Hilang tapi Terus Berjuang

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan dituduh subversif dan mengganggu keamanan maka hanya ada satu kata: lawan!

KATA lawan!" dalam baris terakhir puisi bertajuk Peringatan yang dibuat di Solo pada 1996 itu lebih terkenal daripada penciptanya, Wiji Thukul. Tidak hanya di panggung pembacaan puisi, kata lawan!" sering diteriakkan di berbagai medan demonstrasi sampai sekarang. Kata lawan!" itu bahkan lebih ngetop dibanding judul puisi Thukul.

Kata itu seperti menjadi ikon demonstrasi melawan penguasa. Makin terasa kuat dan relevan karena sang penulis, yang bernama asli Wiji Widodo, sampai sekarang hilang tak tentu rimbanya. Dugaan kuat: Thukul sengaja dihilangkan". Lelaki kelahiran Kampung Sorogenen, Solo, 26 Agustus 1963, itu masih terus dicari keluarganya. Istri dan dua anaknya, Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah, terus mempertanyakan nasib penyair mbeling itu.

Di mata Munir, Thukul luar biasa. Kalimat pendek itu menunjukkan pilihan hidup Wiji Thukul. Bukan pilihan yang mudah, Wiji Thukul telah membayarnya dengan mahal, dia telah menjadi korban praktek penghilangan orang," tulis Munir, Direktur Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, dalam pengantar buku kumpulan puisi Wiji Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru. Munir pun kemudian tewas diracun dan kasusnya belum tuntas hingga kini.

Wiji Thukul memang terbiasa bergaul dengan perlawanan. Dia dekat dengan aktivis gerakan mahasiswa di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kami sering menginap di rumahnya di kawasan kumuh di Solo, saat memperjuangkan tanah rakyat yang ditenggelamkan rezim Soeharto dalam proyek Kedungombo," kata bekas Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik, Budiman Sudjatmiko.

Seniman pelo (cadel) itu pun bergabung dengan partai yang dipimpin Budiman. Wiji memimpin Jaringan Kerja Kesenian Rakyat, sayap seniman partai itu. Semua kekuatan harus bersatu untuk melawan rezim otoriter dan militeristik," kata Budiman menirukan perkataan Wiji.

Memang terbukti, puisi Wiji lalu menjadi salah satu slogan dalam gerakan mahasiswa, petani, dan buruh. Kalimat terakhir Peringatan itu bagi gerakan sama dengan slogan saat proklamasi dulu: merdeka atau mati!'" ujar Budiman, yang kini Ketua Umum Relawan Pejuang Demokrasi, sayap pemuda Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Budiman dan kawan-kawan tak melupakan Wiji. Saya ditangkap setelah peristiwa 27 Juli 1996, saya tak pernah ketemu Thukul sejak 1998," katanya.

Sebagai seniman, Wiji Thukul tidak termasuk yang alergi pada politik. Dengan tidak tahu soal politik, kita mudah saja dipermainkan. Kita harus jadi pelaku, bukan obyek," katanya dalam wawancara di buku terbitan Indonesia Tera, Juni 2000. Itu dibuktikan dalam puisi-puisinya.

Dengarlah Sajak Suara:

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam mulut bisa dibungkam namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan di sana bersemayam kemerdekaan apabila engkau memaksa diam aku siapkan untukmu: pemberontakan!
Memang suara tak bisa diredam dan dipenjarakan. Tapi pemilik suara itu bisa dihilangkan, walaupun puisinya tetap hadir di antara aksi dan unjuk rasa. Dalam puisi Udara, penyair jebolan Jurusan Tari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Solo, pada 1982 itu seakan-akan sudah tahu risiko ketajaman puisi yang ditulisnya.

dari udara sama dihirup udara di kampung udara di kuburan menyambut kematian! begitu miskin milik kita kalimat berat selamat datang!
Ia memang hilang, tapi lewat puisinya ia terus berjuang.

(88) Aku Ingin Jadi Peluru Penerbit: Indonesia Tera, Magelang (2000)

Potret Pembangkangan Rendra

TUBUHNYA yang tinggi dengan rambut yang tebal dikibarkan angin itu mampu menyihir para mahasiswa. Dia berdiri di atas panggung kampus sembari tangannya memegang setumpuk kertas berisi puisi yang dibacakannya. Dan Rendra, pemilik tubuh tinggi dan sepasang mata bak elang itu, akan membuang helai demi helai yang dibacakannya itu....

Kita adalah angkatan gagap yang diperanakkan oleh angkatan takabur, Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal keadilan, karena tidak diajarkan berpolitik, dan tidak diajar dasar ilmu hukum
Suara yang nyaring, menekan, dan menyihir itulah yang selalu diingat Hendardi, kini 50 tahun. Sajak Anak Muda yang dibawakan Willibrordus Surendra Broto Rendra atau W.S. Rendra, bagi Hendardi, telah menjadi sumber inspirasi melawan rezim Orde Baru. "Waktu itu saya baru masuk menjadi mahasiswa. Kakak angkatan kami ditangkapi dan ditahan, militer masuk kampus," katanya.

Hendardi saat itu mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung, angkatan 1978. Dalam keadaan tertekan, puisi Rendra, bagi dia, mampu membangkitkan semangat. "Puisi-puisinya mendengung saat ada happening art dan mimbar bebas di kampus," ujar Hendardi.

Puisi itu pula, menurut bekas Ketua Dewan Mahasiswa ITB itu, yang membuatnya bertahan aktif dan tak kenal menyerah. Hendardi dan kawan-kawan menjadikan puisi Rendra bagian dari pleidoi para aktivis mahasiswa angkatan 1978 yang diadili, antara lain Herry Akhmady, Rizal Ramly, dan Indro Tjahyono.

Karya Rendra yang biasa dibacakan ketika ada demonstrasi dan mimbar bebas itu pada 1980 diterbitkan Lembaga Studi Pembangunan, dalam buku kumpulan puisi Potret Pembangunan dalam Puisi. Isinya menggambarkan situasi politik sejak 1973, tatkala Rendra masih di Yogyakarta, sampai 1978. Bahkan hingga pertengahan 1980-an sajak Rendra masih terasa menggedor-gedor semangat aktivis mahasiswa.

Tidak hanya puisinya, olah vokal dan ekspresi gerak Rendra juga memberikan pengaruh kuat. Ia sendiri mengaku mengagumi gaya pidato Soekarno yang penuh sihir. Sejumlah penyair pada pertengahan 1980-an masih meniru-niru gerak dan olah vokal penyair kelahiran 7 November 1935 di Solo itu. Ciri khas Rendra itu dengan mudah dijumpai dalam acara mimbar bebas mahasiswa masa itu.

Meski puisi Rendra pada masa awal kepenyairannya berbeda bentuk dan gaya (oleh Soebagio Sastrowardoyo dia dianggap terpengaruh Garcia Lorca), Rendra tetap lebih dikenal oleh mahasiswa untuk puisi pamfletnya. Seperti diutarakan A. Teeuw dalam kata pengantar buku Potret Pembangunan, yang menyebut Rendra sebagai pemberontak, seorang yang selalu sibuk melonggarkan kungkungan dan pembatasan. Tak mengherankan jika Rendra sempat mencicipi jeruji tahanan pada masa itu. Maklum, rezim ketika itu memang antikritik, apalagi yang setajam Sajak Mata-mata:

Ada suara bising di bawah tanah, ada suara gaduh di atas tanah, ada ucapan-ucapan kacau di antara rumah-rumah, ada tangis tak menentu di tengah sawah. Dan, lho, ini di belakang saya, ada tentara marah-marah.

Harus diakui, roh Potret Pembangunan menjadi lebih hidup ketika dibacakan di hadapan khalayak ramai. Kepada Tempo, Rendra mengaku setiap kali beberapa baris puisi atau dramanya tercipta, dia memanggil anak-anak Bengkel dan mencoba membacakannya agar dia bisa mendengar sendiri bunyi puisinya. Hingga kini puisi Rendra masih membakar. Dengarkan puisinya berjudul Aku Tulis Pamplet Ini.

Aku tulis pamplet ini karena lembaga-lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah. Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk, dan ungkapan diri ditekan, menjadi peng-iya-an.

(87) Potret Pembangunan dalam Puisi Penerbit: Lembaga Studi Pembangunan, Jakarta (1980)

Denyut Demonstran dalam Puisi

Anakmu yang berani Telah tersungkur ke bumi Ketika melawan tirani
-Salemba, Taufiq Ismail, 1966

SEBAIT sajak dalam kumpulan puisi Tirani dan Benteng itu menyeruak di tengah pergolakan politik 1966. Penyair Taufiq Ismail menulis puisi itu tatkala suhu politik negeri ini memanas. Gelombang demonstrasi pelajar dan mahasiswa menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia, Kabinet Dwikora, dan penurunan harga-dikenal dengan Tiga Tuntutan Rakyat-sedang marak-maraknya.

Ketika itu Jakarta membara oleh lautan demonstran. Di jalanan Ibu Kota, di tengah ingar-bingar pengunjuk rasa, puisi-puisi Taufiq hadir dalam bentuk stensilan bersama ratusan pamflet dan spanduk, yang meneriakkan protes terhadap pemerintahan Demokrasi Terpimpin di bawah Presiden Soekarno.

Puisi-puisi yang sarat dengan tema sosial itu berisi kecemasan, kesangsian, kebebasan, harapan, cita-cita, dan tekad. Taufiq baru saja dua tahun lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia, dan langsung berada di tengah hiruk-pikuk demonstrasi. Ia mengabadikan momen bersejarah itu melalui puisi-puisi yang ditulis sepanjang Februari-Maret 1966.

Taufiq menuliskan baris kata-katanya pada tumpukan kertas yang dijepit rapi dalam map merah cokelat. Ke mana-mana ia membawa map yang ditaruh dalam ranselnya. Menurut Taufiq, hampir setiap hari ia mengikuti demonstrasi mahasiswa. Ia merekam denyut demonstran. "Biasanya puisi saya tulis malam hari di asrama mahasiswa Pal Putih 6," katanya mengenang.

Tirani dan Benteng pertama kali diterbitkan di majalah Gema Psychologi Universitas Indonesia atas upaya sahabat Taufiq, Arief Budiman. "Ketika terbit, sebetulnya saya waswas juga, karena setiap saat tentara bisa menangkap," ujarnya. Makanya, waktu itu ia memakai nama samaran Nur Fadjar.

Boleh jadi, kalau tak "diselamatkan" Arief, puisi-puisi Taufiq akan ikut hilang bersama catatan hariannya di dalam tas ransel hijau kumal yang dicuri di halaman stasiun kereta Gambir, Jakarta Pusat, pada suatu pagi. Naskah yang selamat itu kemudian diterbitkan Penerbit Faset. Selain memuat Tirani dan Benteng, Faset menambahkan 32 puisi lagi, yang ditulis Taufiq sepanjang 1960-1965. Karya-karya yang melengkapi itu diberi subjudul: Puisi-puisi Menjelang Tirani dan Benteng.

Melalui 73 sajaknya dalam Tirani dan Benteng, Taufiq telah membangun tonggak penting dalam perjalanan sastra Indonesia. Penyair kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935 itu turut berkontribusi mengobarkan semangat melawan penguasa pada masanya.
Selain menyebar di jalanan Ibu Kota, puisi Taufiq dalam bentuk stensilan juga diperbanyak mahasiswa dari luar Jakarta, yang saat itu ikut berdemonstrasi di Jakarta. Merekalah yang menyebarkannya ke kota asal masing-masing, seperti Bandung, Bogor, dan Yogyakarta.

Di Jakarta, gaung Tirani dan Benteng kian bergema karena kerap dibacakan di radio Ampera. Ini stasiun radio bawah tanah milik mahasiswa yang getol menyiarkan berita demonstrasi. Menurut Taufiq, salah satu yang sering membacakan puisinya di radio itu adalah Salim Said.

Taufiq menyatakan, ketika menulis puisi-puisi itu tak sedikit pun berniat membakar militansi demonstran. "Waktu itu mengalir saja," katanya. "Situasi dan kondisi sungguh luar biasa. Itulah yang menginspirasi saya untuk menuliskannya". Dengarkan ini:

Kami tidak bisa dibubarkan Apalagi dicoba dihalaukan Dari gelanggang ini
Karena ke kemah kami Sejarah sedang singgah Dan mengulurkan tangannya yang ramah

Tidak ada lagi sekarang waktu Untuk merenung panjang, untuk ragu-ragu Karena jalan masih jauh Karena Arif telah gugur Dan luka-luka duapuluh satu

-Horison, Taufiq Ismail, 1966

(86) Tirani dan Benteng Penerbit: Yayasan Ananda, Jakarta (1993 - edisi baru)

Chairil Anwar dan Semangat Kebangsaan

oleh: Arif Bagus Prasetyo

SEMANGAT kebangsaan, atau nasionalisme dan patriotisme, memang seakan melekat pada citra Chairil Anwar (1922-1949). Chairil aktif berpuisi pada zaman revolusi, sebuah kurun mahagenting dalam sejarah bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Puisi-puisi awalnya ditulis pada masa pendudukan Jepang dan karya-karya terakhirnya diguratkan pada pengujung dasawarsa 1940-an.

Kepenyairan Chairil bersinar ketika Indonesia masih "bangsa muda menjadi, baru bisa bilang 'aku'" (Buat Gadis Rasid) sehingga masih harus berjuang keras mempertahankan diri dari berbagai kekuatan eksternal dan internal yang ingin menghapus eksistensinya. Chairil semasa hidupnya konon bergaul dengan para tokoh elite pejuang-pendiri negara-bangsa Indonesia, seperti Bung Karno dan Bung Sjahrir.

Kritikus H.B. Jassin (almarhum) menobatkan Chairil sebagai "Pelopor Angkatan 45", sebuah periodisasi sastra(wan) Indonesia yang dinamai dengan angka keramat tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Dan yang terpenting, sejumlah puisi Chairil memang jelas-jelas mengumandangkan spirit perjuangan dan kejuangan bangsa.

Itulah kiranya sebagian faktor yang membuat Chairil cenderung dinilai sebagai sosok penyair yang, lebih daripada penyair Indonesia lainnya di sepanjang sejarah, paling representatif membawa pijar semangat kebangsaan. Banyak sudah pakar sastra Indonesia yang menyepakati bahwa nasionalisme/patriotrisme adalah bagian penting dari riwayat Chairil sang Penyair.

Sekadar contoh, dalam esai "Chairil Anwar Kita" (Aku Ini Binatang Jalang, 1986) yang menutup buku koleksi lengkap puisi Chairil, Profesor Sapardi Djoko Damono menulis: "Bagaimanapun, Chairil Anwar tampil lebih menonjol sebagai sosok yang penuh semangat hidup dan sikap kepahlawanan.... Bahkan sebenarnya... salah seorang penyair kita yang memperhatikan kepentingan sosial dan politik bangsa."

Mendiang Dami N. Toda tegas menyatakan: "Sehubungan dengan kelibatan sosial yang bermakna patriotisme, Chairil Anwar sepenuhnya menginsafi getar denyut dan tuntutan bangsanya. Seluruh perjuangan estetik dengan seluruh peralatan analis rasional yang tajam diabdikan kepada bangsa." Karya Chairil Aku, Merdeka, Diponegoro, Cerita buat Dien Tamaela, Krawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, Catetan Tahun 1946, dan Perjurit Jaga Malam, dalam pandangan Dami, "Adalah jelas sajak-sajak patriotik."

Pandangan khalayak awam tak berbeda dengan itu. Sampai sekarang, panggung perayaan Hari Kemerdekaan RI di kampung-kampung hampir tak pernah luput menampilkan "sajak-sajak patriotik" Chairil yang populer, seperti Aku dan Krawang-Bekasi. Bahkan kemungkinan besar, dalam ingatan masyarakat di Indonesia, hanya ada Chairil "sang penyair solider" yang berteriak, "Bagimu negeri... maju. Serbu. Serang. Terjang" (Diponegoro). Barangkali tak pernah terlintas dalam benak orang ramai bahwa ada Chairil "sang penyair soliter", dengan puisi yang mendesahkan kesadaran humanis tragis: "Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing" (Pemberian Tahu).

Tapi apa pendapat Chairil sendiri tentang "sajak-sajak patriotik" yang diciptakannya? Dalam sebuah kartu pos tertanggal 10 Maret 1944 yang dikirimkan kepada Jassin, Chairil menulis: "Begini keadaan jiwaku sekarang, untuk menulis sajak keperwiraan seperti Diponegoro tidak lagi," (Aku Ini Binatang Jalang, 1986). Faktanya, "sajak-sajak patriotik", yang tentunya dekat, bahkan lekat, dengan semangat kolektivisme, hanya mengisi sebagian kecil dari khazanah puisi Chairil. Sebagian besar puisi Chairil justru, meminjam ungkapan Sapardi, "mencerminkan sikap individualistis". Dan memang, analisis puisi Chairil yang dilakukan para sarjana sastra banyak yang menggarisbawahi "ideologi" individualisme sang penyair.

Chairil lebih banyak berpuisi tentang problem eksistensial yang dihadapi dengan heroik dan tragis oleh seorang individual sejati. Sang Aku dengan perih-megap-meriang banyak bertutur tentang hubungan asmara yang jalang dan/atau getir, kesepian, kehampaan hidup, pencarian religius, maut, dan pergolakan batin lainnya yang bersifat personal.

Tentu saja "keakuan" Chairil dalam puisi tidak mutlak harus dibaca sebagai "sikap individualistis" pribadi, tapi bisa juga dimaknai sebagai pernyataan eksistensial dari bangsa yang baru merdeka dan ingin mandiri, sebuah "bangsa muda menjadi" yang "baru bisa bilang 'aku'". Dami, misalnya, memasukkan puisi Aku dalam kelompok "sajak-sajak patriotik".

Sebaliknya, Sapardi mengatakan bahwa puisi yang sama mencerminkan sikap individualistis Chairil: "Boleh dikatakan berdasarkan sajak inilah ia dianggap seorang individualis." Barangkali Dami membaca aku-lirik puisi Aku sebagai personifikasi bangsa Indonesia, suatu pars pro toto dari "kami bangsa Indonesia", sedangkan Sapardi membacanya sebagai manifesto ego-pribadi. Kedua tafsir sama-sama boleh jadi.

Namun, pembaca yang peka tentu sulit menghilangkan kesan bahwa "aku" dalam kebanyakan puisi Chairil cenderung muram, terkesan menjauh dari gelora semangat kolektif sebuah bangsa di tengah suasana revolusi. Kesan ini bahkan membayangi puisi dengan judul bergelora, Merdeka, yang oleh Dami juga digolongkan dalam "sajak-sajak patriotik". Setelah pada bait awal mengumandangkan kobar hasrat aku-lirik untuk "bebas dari segala" dan "merdeka", puisi dikunci dengan bait bernada sendu-pilu-kelu: "Ah! Jiwa yang menggapai-gapai, Mengapa kalau beranjak dari sini, Kucoba dalam mati."

Sebagian di antara "sajak-sajak patriotik" Chairil versi Dami ditulis pada tahun-tahun sesudah sang penyair menulis kartu pos yang menyatakan berhenti "menulis sajak keperwiraan": Catetan Tahun 1946 (1946), Cerita buat Dien Tamaela (1946), Persetujuan dengan Bung Karno (1948), Perjurit Jaga Malam (1948). Jika betul puisi-puisi tersebut adalah "sajak-sajak patriotik", berarti "keadaan jiwa" Chairil telah berubah dari kondisi dua tahun sebelumnya, sehingga ia memutuskan untuk kembali menulis "sajak keperwiraan".

Tapi ada kemungkinan lain: puisi-puisi tersebut bukan ditulis dengan maksud melayani patriotisme, melainkan untuk menunjukkan betapa susahnya sang penyair mempertahankan subyektivitas individualnya di tengah suasana revolusi yang menihilkan eksistensi pribadi, menyeret dan mengubah individu jadi massa, sekadar sekrup dalam sebuah mesin kolektif revolusioner raksasa bernama "bangsa Indonesia".

Ambil contoh Persetujuan dengan Bung Karno, puisi bernada patriotik-nasionalistis yang dicap Sapardi sebagai "sama sekali tidak mencerminkan sikap individualistis dan jalang". Dalam puisi itu cukup jelas tergambarkan transformasi "aku" menjadi massa yang tersihir retorika Bung Karno yang terkenal mampu membius khalayak itu: setelah "sudah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu", "aku sekarang api aku sekarang laut".

Dengan mengoperasikan tafsir alternatif semacam ini, puisi-puisi "individualistis" Chairil pun dapat dibaca sebagai strategi intelektualisme defensif, ketika sang penyair membina suatu kehidupan introspeksi batin di seberang aktivitas revolusioner yang melimpah-ruah. Karena gelora revolusi mengancam subyektivitas individualnya, Chairil menulis puisi sebagai suatu mekanisme pertahanan diri, yang secara spiritual melindunginya dari ancaman "lenyap" terseret arus massa revolusioner.

Pada titik inilah, khazanah puisi Chairil kiranya dapat memberi pelajaran yang berharga bagi kita di sebuah era ketika otonomi kesadaran pribadi kian mudah terancam oleh gilasan mesin kekuasaan (politik, ekonomi, sosial, budaya, agama) yang berbahan bakar massa, seperti era kita sekarang.

Arif Bagus Prasetyo, Kritikus Sastra

(85) Deru Campur Debu Penerbit: Dian Rakyat, Jakarta (1949)
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India