Selasa, 10 Maret 2009

Sang Pemuja dan Tuan Perdana Menteri

Poppy adalah istri dan pengagum terbesar Sjahrir. Ia tersenyum, dalam suka dan derita.

SEKRETARIS baru itu menarik perhatian �Tuan� Perdana Menteri. Bila melintas, sang bos suka menggoda. Alih-alih marah, Poppy Saleh, sekretaris yang digoda itu, hanya bersemburat merah pipinya. Dari ruang kantor perdana menteri, pergaulan sekretaris dan bos itu berlanjut menjadi kisah romantis. Sjahrir tak bertepuk sebelah tangan.

Rupanya bukan sebuah kebetulan. Poppy telah lama mengagumi bosnya. Itu sebabnya, �Sjahrir mudah mendekati Poppy, padahal ia perempuan yang enggak kenal lelaki,� kenang Siti Zoebaedah Osman, sekretaris pribadi Sjahrir, saat ditemui Tempo dua pekan lalu.

Ketika menjadi perdana menteri pada 14 November 1945, Sjahrir memutuskan mengangkat dua sekretaris. Yang menangani urusan pribadi berkantor di rumahnya di Jalan Jawa (sekarang Jalan H.O.S. Cokroaminoto) di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Tugas ini dipegang Ida�lengkapnya Zoebaedah�yang telah lama membantu Sjahrir.

Sekretaris yang lain mengurus kantor Perdana Menteri. Situasi politik yang pelik saat itu membuat Sjahrir mensyaratkan sekretarisnya haruslah wanita yang cerdas dan berpendidikan tinggi. Ia minta rekomendasi pada Soedjatmoko. Sang sahabat akhirnya membawa kakaknya, Poppy Saleh, candidaat jurist (kandidat sarjana hukum) dari Rechtshoschool atau Sekolah Tinggi Hukum di Batavia.

Siti Wahjunah Saleh nama lengkap sekretaris itu. Lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 11 Mei 1920 dari pasangan Dr KRT Mohamad Saleh Mangundiningrat dan RA Isnadikin Tjitrokusumo. Tiga saudara Poppy yang lain adalah orang-orang yang di kemudian hari dikenal luas. Soedjatmoko pernah menjabat Duta Besar Indonesia di AS dan mantan Rektor Universitas PBB di Tokyo. Miriam Budiardjo merupakan salah satu pendiri Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia serta salah satu pendiri Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Nugroho Wisnumurti adalah mantan duta besar tetap Indonesia di PBB.

Poppy tak sekadar menemani Sjahrir di kantor. Seusai perjanjian Linggarjati pada 25 Maret 1947, Gubernur Jenderal Belanda H.J. van Mook menggelar resepsi di Istana di Jakarta. Sjahrir menggamit Poppy di pesta yang menampilkan konser Rontgen Quartet dari Negeri Belanda itu.

Beberapa hari sesudah resepsi, Sjahrir terbang ke India. Pemerintah India rupanya mempersiapkan kejutan: di bandara New Delhi, mereka menghadirkan Maria Duch�teau, istri Sjahrir. Poppy yang ikut ke India kemudian tahu untuk pertama kali bahwa sang kekasih pernah menikah.

Sjahrir mengawini wanita Belanda itu di Medan pada 1932. Sebulan lebih menikah, Maria �ditendang� dari Indonesia. Pemerintah kolonial menganggap akad mereka tidak sah karena pengantin wanita masih berstatus istri orang. Maria juga dicurigai memiliki motif politik di negeri ini.

Reuni pasangan yang 15 tahun berpisah itu, yang semula diharapkan menjadi kejutan besar untuk Sjahrir, menjadi anti-klimaks. Jangankan menyambut hangat, Sjahrir hanya mencium kedua pipi Maria cepat-cepat. Suasana berubah canggung. Di kemudian hari, Maria mengeluhkan pertemuan New Delhi itu sebagai pertemuan yang �tak menyenangkan�. Ia mengatakan suaminya �sudah berubah�.

Abu Hanifah, delegasi Indonesia yang tiba di Delhi sebelum Sjahrir, menuturkan kesaksiannya dalam buku Robert Mrazek, Sjahrir: Politic and Exile in Indonesia, bahwa �ada seorang wanita Indonesia, muda dan menarik, kini menjadi idolanya. Ia ikut dengannya di pesawat.�

Tak sulit menebak �wanita Indonesia, muda dan menarik� itu. Ya, Poppy Saleh. Sjahrir dan Maria akhirnya berpisah pada 12 Agustus 1948. Meski mencintai pria yang sama, Poppy dan Maria tak pernah berseteru.

Dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 23 Agustus 1949, Poppy datang sebagai aktivis Gerakan Wanita Sosialis. Di sela-sela konferensi, dua wanita Sjahrir itu sempat bertemu. Sayang, Poppy tak pernah mengungkap banyak isi pertemuan itu. Maria, konon, hanya sempat berkeluh kesah tentang sulitnya menjadi istri seorang pemberontak.

Poppy punya sisi kehidupan yang lain. Pada akhir 1949, ia mendaftar ke Universitas Leiden di Belanda. Setelah meraih gelar meester in de rechten pada 1950, Poppy melompat lagi ke London School of Economics di Inggris. Selama studi, ia berpisah dengan Sjahrir. �Menjaga jarak selama satu atau dua tahun untuk tahu apakah kami cocok untuk menikah,� cerita Poppy kepada Mrazek.

Masa menjaga jarak itu berakhir setelah studi Poppy selesai. Keduanya memutuskan menikah. Poppy ketika itu di London dan Sjahrir di Jakarta, tapi mereka memilih menikah di Kairo, Mesir. Penghulunya adalah Rektor Universitas Al-Azhar, Syekh Abdul Magud Selim, dan wali Poppy adalah Soedjatmoko, kakaknya.

Pasangan berusia 42 dan 31 tahun ini menghabiskan bulan madu di Kairo. Mereka tersenyum bahagia saat berpose di depan piramida dan sphinx. Ada yang tak biasa. Pengantin pria memboyong dua anak angkatnya dari Banda, tapi Poppy tak mengeluh.

Dua anak lahir dari perkawinan ini: Kriya Arsjah pada 1957 dan Siti Rabyah Parvati pada 1960. Baru sebentar hidup bersama keluarga kecilnya, pada 1962 sang ayah diseret ke penjara di Madiun, Jawa Timur. Sjahrir dituduh berniat menggulingkan kekuasaan Presiden Soekarno.

Poppy lagi-lagi harus bersabar dan membesarkan hati. Selama delapan bulan Sjahrir dikerangkeng, hampir setiap bulan Poppy datang berkunjung. Bertiga dengan Buyung (Kriya) dan Upik (Siti Rabyah)�panggilan dua anaknya�Poppy dengan setia menyusuri rel kereta api Jakarta-Madiun.

Ia harus mengurus berlembar surat izin masuk setiap menjenguk suaminya. �Tapi Mama tak pernah mengeluh. Dia jalani saja, yang penting bisa ketemu Papa,� kisah Upik. Dari balik terali, sang suami pun membalas. Hampir setiap hari Sjahrir menorehkan surat penuh rindu kepada istrinya.

�Cinta Mama sangat luar biasa. Sampai akhir hayatnya, yang Mama pikirkan hanya Sjahrir, Sjahrir, dan Sjahrir,� ujar Upik. Ketika Sjahrir wafat pada 1966, Poppy tenggelam dalam duka yang berkepanjangan. �Di depan kami dia tersenyum, tapi diam-diam Mama sering menangis.� Upik kerap memergoki ibunya sesenggukan di ranjang sambil menatap sebuah kotak. Baru belakangan ia tahu: kotak itu berisi gips cetakan wajah ayahnya, sesaat setelah wafat di Zurich.

Buyung punya cerita lain. Semenjak Sjahrir berpulang, ibunya semakin menyelami hal-hal spiritual. Poppy bahkan menanggalkan semua perhiasan dan tak lagi berdandan. �Mungkin itu kaulnya sebagai tanda setia kepada suami,� kata Buyung. Kesetiaan sang ibu sungguh membekas di benak kedua anaknya. �Kalau Mama mendewakan Sjahrir, maka saya memuja Mama Poppy,� cetus Upik.

Poppy pula yang meredakan amarah Buyung ketika si sulung dihina teman-teman di Sekolah Dasar Kepodang, Jakarta, dengan sebutan anak tahanan. �Papamu mengajarkan kita tidak jadi pendendam,� kata Poppy berulang kali. Sang ibu dengan setia menyiramkan kata-kata yang mendinginkan Buyung dan Upik yang sakit hati mengetahui ayahnya diseret ke bui oleh bangsanya sendiri. �Papa enggak pernah membenci orang-orang itu,� ujar Upik, menirukan ibunya.

Istri Sjahrir ini memang penuh kasih dan pemaaf. Namun, Minarsih Soedarpo, rekannya di Gerakan Wanita Sosialis, mengenang Poppy sebagai sosok yang tertutup. �Ia bukan tipe orang yang suka mengutarakan perasaan. Semua dipendam sendiri saja,� kata istri almarhum Soedarpo Sastrasatomo, aktivis PSI.

Menurut Mien, dalam banyak hal Poppy sebetulnya tertekan. �Saya tahu dia menderita, tapi tidak pernah diperlihatkan. Semua dijalani saja,� tuturnya kepada Tempo. Mien menduga Poppy kadang tertekan karena cara pandangnya sering berbeda dengan Sjahrir. Poppy sebetulnya tak sejalan dengan suaminya yang kerap memilih jalan konfrontatif dalam menghadapi masalah.

Namun Poppy tak pernah menampakkan wajah susah saat bersama Sjahrir. Bahkan, ketika suaminya dirawat di Zurich, Swiss, Poppy dengan setia membacakan koran, menyuapi, dan menemani suaminya setiap hari. Ia juga satu-satunya yang bisa �menerjemahkan� semua yang keluar dari mulut Sjahrir, yang sudah tak mampu bicara karena terserang stroke.

�Mama selalu menciptakan suasana happy dan damai, walau sedang susah,� kenang Upik. Suatu hari pada 1999, Poppy terjatuh di sebuah resepsi. Tulang panggulnya retak. Ia menolak dioperasi dan memilih dirawat di rumah. Kondisinya memburuk dari hari ke hari. Pada usia 79 tahun, Poppy berangkat menyusul pujaan hatinya.

Kees Snoek: Maria Ingin Membakar Surat-surat itu

SEBUAH "kebetulan" mengantar Kees Snoek mendapatkan "harta karun" berupa surat-surat Sjahrir kepada Maria Duchteau -istri pertamanya yang orang Belanda. Snoek sedang menulis biografi tentang penyair Belanda Charles Edgar Du Perron. Tak dinyana, sang penyair merupakan sahabat Sjahrir dan Maria.

Sjahrir menulis di atas kertas biru tipis. Surat yang dilayangkan pada 1931-1940 itu berjumlah 287 buah dengan panjang bervariasi antara 4 dan 7 halaman. "Tulisan tangan Sjahrir kecil-kecil dan sukar dibaca," ujar Snoek. "Sepertinya dia menulis secara terburu-buru". November mendatang ia akan menerbitkan surat-surat bersejarah itu.

Berikut ini wawancara koresponden Tempo di Belanda, Asmayani Kusrini, dengan Snoek.

Anda mengetahui hubungan Sjahrir-Maria Duchteau saat melakukan riset tentang Du Perron?

Untuk menulis biografi Du Perron yang bersahabat pena dengan Sjahrir, saya menghubungi Maria Duchteau pada 1993. Saya dan Maria saling bertulis surat karena saya masih tinggal di Selandia Baru, Januari 1994, ketika kembali ke Eropa, saya bertemu dengan Maria.


Jadi sebetulnya Anda tidak tertarik dengan Sjahrir?

Bukannya tidak tertarik, tapi sejarah Indonesia bukan bidang yang saya dalami. Saya tahu bahwa Maria adalah istri Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia. Dari hasil ngobrol dengan Maria, saya tahu bahwa Marialah yang menyusun buku Renungan Indonesia (diterjemahkan menjadi Out of Exile), semacam diari fiktif seorang pejuang Indonesia yang sebetulnya kumpulan dan kutipan dari ratusan surat-surat Sjahrir kepada Maria. Dia menyusun buku itu tentu dengan menghilangkan kalimat-kalimat pribadi, jadi buku itu terlihat seperti murni pemikiran seorang pejuang yang sedang memikirkan ide memerdekakan bangsanya.

Surat-surat itu ditulis tangan?

Maria menunjukkan surat-surat asli yang umumnya ditulis tangan di atas kertas tipis biru yang rapuh. Dia terpikir membakar surat-surat itu sebelum meninggal, karena menurut dia surat itu cuma surat cinta biasa. Saya bilang jangan, apalagi surat itu punya nilai sejarah walaupun konteksnya surat pribadi. Meski surat cinta, di dalamnya banyak cerita tentang perkembangan negeri, sastra, budaya, dan lain-lain. Dari surat-surat itu kita bisa tahu gambaran karakter yang menulisnya. Maria setuju.

Bagaimana Anda akhirnya memperoleh surat-surat itu?

Ketika Maria meninggal, saya terus berkorespondensi dengan suami keempatnya, Mr. Stall. Dari dialah saya mendapatkan surat-surat Sjahrir tersebut. Saya kemudian membacanya dan baru menyadari betapa surat-surat itu adalah surat berharga yang akan menjadi kerugian sejarah jika tidak diapa-apakan. Dari situlah saya berniat membuat buku.

Berapa banyak surat itu?

Semua surat ditulis pada 1931-1940, berjumlah 287 surat yang ditulis di atas 952 lembar kertas. Panjang surat bervariasi antara 4 dan 7 lembar, dengan tulisan tangan yang kecil-kecil serta sukar dibaca. Terlihat sekali surat-surat itu ditulis dengan cepat dan tergesa-gesa sehingga susah dipahami. Kadang saya menemui kesulitan untuk memahami tulisan maupun bahasa Belandanya. Jadi, untuk mengerti seluruh kalimat dari sebuah kata yang tidak terbaca, saya sesuaikan dengan konteksnya. Semua surat itu lengkap, mungkin ada satu-dua yang hilang tapi yang jelas tidak ada yang dibakar.

Dari mana saja Sjahrir menulis surat itu?

Surat awal masih ditulis di Eropa, selanjutnya ditulis dari berbagai tempat di Indonesia, misalnya Semarang, Medan, Jakarta, Bandung, Solo, Ambarawa, Cipinang, lalu Boven Digul.

Kapan surat itu akan Anda terbitkan sebagai buku?

Buku itu barangkali terbit pada November. Ini akan menjadi edisi terbatas dari KITLV Press karena mahal dan khusus untuk para spesialis dan kalangan akademisi. Tapi saya kira menarik juga untuk sejarawan Indonesia karena dalam buku-buku sejarah atau biografinya tidak pernah ada yang menceritakan perkembangan batin Sjahrir dalam masa perjuangan. Pada umumnya buku sejarah menulis hal yang sudah diedit, untuk kepentingan negara, jadi semua pahlawan Indonesia ditampilkan seideal mungkin. Tapi banyak yang lupa mereka juga manusia biasa dengan banyak kelebihan dan kekurangannya.

Kasih yang Tak Sampai

Sjahrir punya hubungan khusus dengan beberapa perempuan. Ia seorang flamboyan yang suka dansa dan gemar musik klasik. Pria yang amat mencintai anak-anaknya itu meninggal dalam kesunyian pengasingan-di sebuah flat sempit di Zurich, Swiss.


AMSTERDAM adalah kota yang menggairahkan Sjahrir. Dia menemukan idealisme di kota ini. Juga teman-teman sealiran. Salomon Tas, wartawan berhaluan kiri, yang saat itu menjabat Ketua Sociaal Democratische Studenten Club (Perkumpulan Mahasiswa Sosialis Demokrat) Amsterdam, adalah salah satu sahabat dekat Sjahrir. Berdarah Yahudi, Tas lahir dalam keluarga sederhana, terdidik, serta amat antikolonial. Mahasiswa Hindia Belanda yang sedang bersekolah di negeri itu, termasuk Sjahrir, segera menjadi kawan-kawan dekatnya.

Persahabatan dengan Tas kian erat ketika kakak Sjahrir, Siti Sjahrizad-alias Nuning-harus kembali ke Hindia Belanda pada 1931. Di rumah Nuning di Amsterdam Selatan itu tadinya Sjahrir tinggal, sejak datang pada Juni 1929. Tas kemudian menawarkan apartemennya sebagai tempat tinggal Sjahrir.

Di apartemen itu, Tas tinggal bersama istrinya, Maria Johanna Duchteau, dan dua anak mereka yang masih kecil-kecil. Di rumah itu tinggal pula teman perempuan Maria bernama Judith van Wamel.

Tas, Maria, Judith, dan Sjahrir sama-sama menggemari sastra, film bermutu, dan musik. Mereka menonton film dan teater di Stadsschouwburg dan menghadiri pertemuan politik di bar Americain. Restoran terkenal Bohemien di kawasan Lange Leidse Dwaarstraat menjadi tempat berkumpul Sjahrir dan teman-temannya. Di restoran inilah Tas membentuk Perkumpulan Mahasiswa Sosialis Demokrat.

Perkawanan itu ternyata melahirkan asmara antara Sjahrir dan Maria, istri Tas. Perempuan peranakan Belanda-Prancis ini berpikiran maju dan banyak membantu Tas dalam aktivitas politiknya. Pernikahannya dengan Tas pada tahun-tahun itu sedang gersang. Tas tidak punya waktu untuk Maria dan anak-anak mereka. Hidupnya hanya untuk politik.

Tidak perlu waktu lama bagi Sjahrir untuk merebut Maria. Sebenarnya itu tidak bisa disebut merebut karena Tas tahu hubungan sahabatnya dengan Maria. Bahkan dia sendiri sudah mulai berhubungan dengan Judith. Kees Snoek-yang mempublikasikan kembali surat-surat Sjahrir kepada Maria-menyatakan kepada koresponden Tempo di Belanda, Asmayani Kusrini, kehidupan mahasiswa pergerakan saat itu amatlah bebas.

Sjahrir serius menjalin cintanya dengan Maria. Ketika hendak pulang ke Hindia Belanda pada 1932, ia meminta Maria ikut. Kepada Mieske, panggilan sayangnya kepada Maria, Sjahrir menyatakan kekasihnya bisa membantu kaum perempuan di bidang pergerakan.

Sjahrir juga ingin menikahi Maria di Hindia Belanda kelak. Sesuai dengan rencana, dia pulang lebih dulu mengambil alih pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Menurut Snoek, ketika itu Hatta, yang diplot sebagai pemimpin, belum selesai studinya. "Sjahrir diputuskan kembali ke Indonesia lebih dulu," ujarnya.

Maria, rencananya, akan menyusul bersama anak-anaknya empat bulan kemudian jika perceraiannya dengan Tas sudah beres. Medan menjadi tempat pertemuan mereka.

Dari Batavia, Sidi-begitu Maria memanggil Sjahrir-berangkat ke Medan, sementara Maria dan dua anaknya berlayar dari Kolombo ke Medan. Pertemuan itu akhirnya berlangsung pada April 1932. Pada tanggal 10 bulan itu, Sidi dan Mieske menikah di sebuah masjid di Medan.

Keduanya menginap di rumah tempat Sjahrir tinggal sebelum bersekolah ke Jawa. Mereka tidak pulang ke Koto Gadang karena "tidak punya uang untuk pulang kampung." Rencananya, Sjahrir akan mengajak Maria ke Jawa.

Sjahrir rupanya tidak sadar tindakannya menikahi perempuan kulit putih bisa dianggap provokasi. Meski Medan ketika itu termasuk kota Hindia Belanda yang ramai, pasangan Sjahrir-Maria segera mengundang gunjingan. Apalagi mereka juga datang ke tempat-tempat pertunjukan musik, film, dan teater, yang ramai disambangi orang kulit putih.

Maria, yang gemar berkebaya dan memakai kain, segera mengundang perhatian orang Belanda. Mereka bertanya, mengapa Maria mengenakan pakaian pribumi. Empat hari setelah pernikahan mereka, Sumatran Post, koran terbesar di Medan saat itu, menulis tentang Maria: "Perempuan bersarung kebaya dalam penyelidikan polisi."

Sebulan lewat, polisi mulai menyelidiki dokumen pernikahan Maria. Mereka menemukan Maria menikah dengan Salomon Tas, aktivis pergerakan antikolonial. Selain itu, Tas ternyata belum menceraikan Maria secara resmi. Karena Maria menikah secara Islam pada saat belum bercerai, keruan saja para pemuka agama jadi ribut.

Lima pekan setelah pernikahan mereka, pada 5 Mei 1932, pernikahan Sjahrir dibatalkan oleh pemuka agama setempat. Lima hari kemudian, Maria dipulangkan ke Belanda. Yang membuat hati Sjahrir pedih, Maria tengah mengandung anak laki-laki mereka.

Keinginan Sjahrir untuk segera menyusul sang istri ke Belanda ternyata penuh rintangan. Rentetan kejadian tragis kemudian menimpa Sjahrir. Hatta akhirnya pulang dari Belanda, tapi mendapat kecelakaan ketika mengunjungi orang tuanya di Sumatera. Sjahrir kembali mengundurkan niat ke Belanda. Surat Maria juga sudah lama tidak datang.

Belakangan datang kabar dari Maria yang menyebut kematian bayi mereka sesaat setelah dilahirkan. Hubungan Sjahrir dan Maria kembali terjalin. Mereka kembali bersurat-suratan. Sjahrir meneguhkan niatnya menyusul Maria. Apalagi ia sudah mengantongi izin dari Pendidikan Nasional Indonesia untuk kembali bersekolah di Belanda.

Rencananya, ia berangkat menumpang kapal uap S.S. Aramis dari Batavia pada Maret 1934 dengan bekal uang kiriman Maria. Celaka, akhir Februari itu, Hatta ditangkap. Sjahrir, yang bersembunyi di rumah adik tirinya, Radena, ditangkap polisi sehari kemudian.

Meski pertemuan dengan sang kekasih hati lagi-lagi kandas, hubungan Sjahrir dan Maria kian hangat lewat surat-menyurat. Maria menjadi satu-satunya tempat curahan hati yang memahami kesulitannya.

Dua tahun setelah penahanan Sjahrir, mereka kemudian menikah kembali, 2 September 1936. Pernikahan jarak jauh itu diwakili oleh pelukis Salim. Sjahrir, yang berada dalam pembuangan di Banda Neira, berangkat ke kantor gubernur. Sayang, pernikahan jarak jauh menciptakan suasana yang tidak sehat dan penuh ketegangan.

Untuk meredam masalah, Sjahrir meminta Maria menyusulnya ke Banda Neira. Keinginan itu gagal karena Maria tak punya cukup uang.

Akhir 1939, ketika Maria sudah punya uang , tidak ada kapal lagi yang menuju Hindia Belanda. Perang Dunia II sudah berkobar. Kembali mereka hanya surat-menyurat.

Setelah Indonesia merdeka dan Sjahrir menjadi perdana menteri pertama, tidak juga ada kabar baik bagi keduanya. Nyala cinta mereka mulai redup. Sebuah pertemuan di New Delhi, India, pada April 1947 menjadi penentu akhir perjalanan mereka.

Ketika itu, Nehru rupanya hendak membikin kejutan bagi Sjahrir. "Ia tidak bilang akan mengundang Maria," kata Snoek. Pada pikir Nehru, apalah salahnya mengundang Maria, yang masih jadi istri Sjahrir. Nehru tak tahu kala itu asmara sudah terjalin antara Sjahrir dan asistennya, Poppy.

Pertemuan setelah 15 tahun itu berlangsung dingin. Maria, bersama Nehru dan putrinya, Indira Gandhi, menyambut Sjahrir yang didampingi Poppy di bandar udara. Dalam sebuah wawancara pada 1988, Maria menyebut betapa Sjahrir sudah jauh berubah. "Mungkin karena ia sudah menjadi negarawan."

Sjahrir merangkul Maria dan menempelkan pipinya ke pipi Maria. Setahun kemudian, api cinta lama itu benar-benar padam. Keduanya memutuskan bercerai pada 12 Agustus 1948.

Belakangan, Maria menikah dengan adik Sjahrir, Soetan Sjahsyam, yang bersekolah di Belanda. Sejak kembali ke Belanda, Maria tinggal bersama Sjahsyam, yang ikut membesarkan anak-anak Maria dari perkawinannya dengan Tas.

Surat Pengagum Faust

"Aku relatif kurang populer di kalangan orang-orang nasionalis dan intelektual di Indonesia. Ini untuk sebagian besar disebabkan karena aku mempunyai apa yang disebut mereka itu "kecenderungan-kecenderungan Barat" dan beberapa orang malahan mengatakan aku "kebelanda-belandaan" (Banda Neira, 9 Maret 1936).

HAMPIR sebulan dibuang di Banda Neira, Sjahrir menuliskan kalimat itu. Dengan tutur kata yang tenang, tak meledak-ledak, Sjahrir selanjutnya memasuki perenungan mengapa makin lama di Indonesia tumbuh perasaan anti-Barat yang kuat. Sebuah sikap yang menurut dia merupakan bagian dari kompleks kurang harga diri sebuah bangsa.

Surat-surat terkenal Sjahrir dari pengasingan di Boven Digul dan Banda Neira, yang dalam edisi Indonesia diterbitkan dalam judul: Renungan dan Perjuangan, banyak membahas tema itu. Sjahrir pertama kali menjadi tahanan di penjara Cipinang, Jakarta. Ia masuk bui pada sekitar Februari 1934. Surat-suratnya dimulai dari bulan Maret. "Aku sama sekali tidak merasa diri seorang martir," demikian ia menulis. Berdiam di penjara, menurut dia, membuat dia berkepala dingin menghadapi segala sesuatu. Ia tak ingin hanyut dalam pemikiran romantis.

Itulah sebabnya mulai saat Sjahrir dipenjara di Cipinang, kita tak menemukan surat-suratnya yang bernada keluhan, umpatan, atau penderitaan. Sebaliknya surat-surat Sjahrir menukik pada renungan masalah sosial. Dalam bui ia tambah banyak membaca dan mempertimbangkan berbagai gagasan besar dunia. Di Cipinang itu ia misalnya banyak merenungkan persoalan pertentangan antara individu dan kolektivitas.

Ketika dibuang ke Boven Digul, surat-surat Sjahrir banyak bercerita tentang pengalamannya mengamati masyarakat setempat. "Di Digul ini aku mendapat kesempatan untuk menyelami lebih dalam struktur psikis-fisis bangsa kita." Surat-surat Banda Neira adalah surat-surat paling reflektif. Keelokan pantai Banda Neira, gunung apinya yang terlihat dekat, teluk yang laksana kaca licinnya, pulau-pulau kecil, pesta-pesta perkawinan masyarakat setempat, dimanfaatkan Sjahrir untuk menyegarkan pikirannya. Ia suka berenang dengan anak-anak ke laut. Ia suka pergi ke dermaga lama untuk melihat matahari terbenam.

Di Banda Neira pikiran-pikirannya tentang Barat makin eksplisit. Di suratnya bertanggal 31 Desember 1936, kita akan melihat adanya beberapa persamaan pikiran Sjahrir dan Sutan Takdir Alisjahbana dalam konsep Barat: "Barat" bagiku berarti kehidupan yang menggelora, kehidupan yang mendesak maju, kehidupan dinamis. Itulah sifat Faust, sifat yang kusukai, dan aku yakin bahwa hanya Barat-yaitu dalam pengertian dinamis ini-yang bisa melepaskan Timur dari perbudakannya."

Selanjutnya lihatlah bagaimana saat Sjahrir menerangkan "Timur". Menurut dia, banyak intelektual Indonesia yang terperangkap oleh gambaran Timur yang sesungguhnya diidealisasi oleh beberapa filosof. Timur yang tenang, yang harmoni, suatu Timur yang tak pernah ada. "Timur seperti dilihat orang-orang Buddhis itu, hanya ada bagi mereka saja. Apakah masih ada Timur semacam itu di Hong Kong atau Shanghai, atau Batavia? Di mana-mana di Timur ini irama hidup, tempo sudah dipercepat. Ketenteraman jiwa yang sangat dihasratkan itu mungkin masih kedapatan di pelosok-pelosok."

Kita dapat melihat orientasi dasar Sjahrir terhadap Barat itu, amat melandasi sikap-sikap politiknya, misalnya: sikapnya terhadap nasionalisme yang ekstrem. Sjahrir mengkritik perjuangan politik yang di negeri ini cenderung harus mempunyai unsur moral yang kuat. "Politik untuk orang-orang kita di sini bukan berarti: perhitungan, melainkan bertindak etis, berbuat dan bersikap moral tinggi. Pemimpin-pemimpin haruslah pahlawan-pahlawan, nabi-nabi".

Ia juga mengkritik adanya kebencian yang tak kenal damai dengan Belanda. Pada Maret 1938, Sjahrir menulis surat bagaimana ia tak ingin terlibat dalam gerakan non-kooperasi. Sjahrir melihat gerakan non-kooperasi sudah diangkat menjadi soal kehormatan. Baginya, itu cermin dari mentalitas inferioritas. Pada titik itu, secara tajam ia menganggap nasionalisme yang ekstrem bisa menjadi timbul dari rasa rendah diri ini.

Ia menulis: "Aku hampir-hampir hendak mengatakan bahwa nasionalisme ialah proyeksi daripada kompleks inferioritas dalam hubungan kolonial antara bangsa yang dijajah dan bangsa yang menjajah. Jadi, dari semula dasar dari propaganda nasionalistis adalah suatu perasaan yang tidak rasional."

Manifesto Seorang Antifasis

BEBERAPA hari setelah menjadi perdana menteri, akhir November 1945, Sutan Sjahrir menghadiri rapat akbar di alun-alun Kota Cirebon, Jawa Barat. Ia berpidato dengan suara tenang. Seorang hadirin bertanya, "Mengapa dalam buku Perdjoeangan Kita tak satu pun disebut nama Tuhan?"

Sjahrir tertawa. Ia menjawabnya dengan sebuah cerita. Ketika kecil dan bersekolah di Medan, katanya, ia membaca buku-buku matematika yang ditulis seorang pastor. Meski yang menulis pastor, tak sekali pun ada nama Tuhan di sana. "Perdjoeangan Kita adalah buku politik yang penuh perhitungan. Buku itu tak ditulis berdasarkan emosi," kata perdana menteri 36 tahun itu.

Kisah ini diceritakan Hamid Algadri, bekas Menteri Penerangan yang menemani Sjahrir berpidato, dalam memoarnya. Dengan jawaban itu, kata Hamid, terlihat benar Sjahrir orang yang rasional.

Pamflet Perdjoeangan Kita ditulis dan diterbitkan pada 10 November 1945, lima hari sebelum Sjahrir menjadi perdana menteri, bertepatan dengan bentrok fisik para pemuda dengan tentara Inggris di Surabaya. Hari yang ditandai dengan pekik "Merdeka atau Mati" itu kini dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Bagi Sjahrir, peristiwa itu satu contoh Indonesia masih labil dan lemah. Setelah kekuasaan tiga setengah tahun Jepang berakhir, Indonesia disergap kerusuhan dan kekacauan. Laskar-laskar pemuda menyerang tentara Sekutu, toko-toko diserbu dan dirampok, pembunuhan warga Tionghoa, Indo, Ambon, dan Manado terjadi di mana-mana.

Dengan penuh gelora dan kritik tajam, Sjahrir melukiskan situasi Indonesia di awal kemerdekaan itu pada bagian pertama Perdjoeangan Kita. Dengan jernih Sjahrir menunjukkan bahwa kerusuhan, pemecahan masyarakat ke dalam kelompok-kelompok, serta agitasi kebencian kepada ras bangsa Jepang akan menimbulkan sebuah kekuatan fasis baru dari dalam negeri sendiri.

Ia mengkritik, pekik merdeka hanya simbol kosong dari euforia kebebasan. Proklamasi 17 Agustus 1945 ia hantam sebagai peluang menyusun kekuasaan tapi tak dipakai oleh para pemimpin karena mereka "terbiasa membungkuk dan berlari untuk Jepang dan Belanda". Sjahrir sendiri absen saat Soekarno-Hatta membacakan pernyataan Indonesia merdeka itu.

Bagian kedua pamflet ini mengurai bagaimana seharusnya Indonesia menyusun kekuatan dan menegakkan Republik. Bagi Sjahrir, kekuatan itu harus dimulai dengan "revolusi kerakyatan", revolusi yang dipimpin golongan demokratis, bukan nasionalistis yang membudak kepada fasis lain. "Politieke collaboratoren harus dipandang juga sebagai fasis, berdosa dan berkhianat pada perjuangan dan revolusi rakyat," tulisnya.

Kalimat inilah yang memicu kemarahan tokoh politik ketika itu. Jenderal Sudirman, pemimpin tentara Pembela Tanah Air yang dibentuk Jepang, menyebut pernyataan Sjahrir kurang bijak. Para menteri menyatakan oposisi frontal. Menurut Rosihan Anwar, wartawan Harian Pedoman yang meliput sidang Komite Nasional Indonesia Pusat di AMS Salemba, Menteri Pekerjaan Umum Abikusno Tjokrosujoso mengamuk ketika Sjahrir membacakan manifesto itu.

Meski ditentang kanan-kiri, Sjahrir jalan terus. Ia mengubah sistem presidensial dengan parlementer, sebagaimana keyakinannya dalam pamflet ini bahwa kedaulatan harus ada di tangan rakyat melalui wakil-wakilnya di lembaga legislatif. Partai-partai harus dibentuk oleh mereka yang terdidik, berdisiplin, dan berpengetahuan modern untuk membawa rakyat ke dalam revolusi.

Pada bagian akhir pamflet ini, Sjahrir menjelaskan agak teknis soal menyusun alat-alat pemerintahan: bagaimana memfungsikan pangreh praja, polisi, dan petugas agraria. Ia menyerukan buruh dan tani diperkuat melalui pendidikan politik sebagai kekuatan revolusioner yang demokratis. Pemilihan-pemilihan harus dimulai di desa. Pemuda, sementara itu, harus menyokong buruh dan tani, bukan pemimpin revolusi itu sendiri.

Ia juga menyinggung soal politik luar negeri. Menurut Sjahrir, kemerdekaan sesungguhnya harus dicapai secara bertahap, rapi, dan elegan, bukan frontal dengan angkat senjata. Maka ia mempraktekkan politik diplomasi: berunding dengan Belanda dan Sekutu serta melecut simpati dunia internasional.

Sikap Sjahrir ini, menurut sejarawan Universitas Cornell, Amerika Serikat, Benedict Anderson, menenangkan dan menarik simpati Barat. Ben menyebut Sjahrir suara penting pemikiran modern Asia dengan Perdjoeangan Kita sebagai ekspresi terbaik ideologi politiknya. "Pamflet ini dokumen penting untuk mempelajari revolusi Indonesia dan lingkungan intelektual kaum pemimpinnya," tulis Ben dalam pengantar Our Struggle, Sutan Sjahrir pada 1968.

Tak Ada Patung Bung Kecil


BERDIRI di antara dua pria Belanda, lelaki itu terlihat mungil. Tapi ia tampak sangat percaya diri. Peristiwa 17 November 1945 itu terekam kamera juru potret harian Merdeka, Alex Mendur.

Sutan Sjahrir, pria kecil itu, baru selesai menghadiri pertemuan dengan Gubernur Jenderal Belanda Van Mook dan Panglima Sekutu di Indonesia, Jenderal Sir Philip Christison, di Jakarta. Gara-gara foto itulah koran-koran lantas memberinya julukan "Bung Kecil".

Bersama puluhan foto lain, foto itu dipajang di ruang utama Gedung Joang 45, Menteng 31, Jakarta, 28 Februari-31 Maret, sebagai bagian peringatan 100 tahun Sutan Sjahrir. Koleksi ini melukiskan si Bung di era perjuangan, kebersamaannya dengan keluarga, hingga detik-detik kematiannya di Zurich, Swiss.

Kehadiran foto-foto Sjahrir di Gedung Joang 45 terbilang istimewa. Di gedung itu seolah tak ada tempat untuk perdana menteri pertama Indonesia ini. Peran Sjahrir seperti tak sebesar Soekarno-Mohammad Hatta, Adam Malik, B.M. Diah, Soekarni, dan beberapa tokoh lain, sehingga tak dibuatkan patungnya untuk dipajang di sana.

Di salah satu papan informasi tertulis, ketika Belanda ingin kembali menguasai Indonesia melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA), Perdana Menteri Sjahrir menolak karena berpegang pada slogan "Merdeka 100%". "Ini karangan musuh-musuh Sjahrir," kata Siti Rabyah Parvati, 48 tahun, putri Sutan Sjahrir, dua pekan lalu.

Slogan itu milik Tan Malaka, yang kala itu dipuja para pemuda anti-Sjahrir yang bermarkas di Gedung Joang 45. Nah, menurut sejarawan Universitas Indonesia, Rushdy Hoesein, gedung ini merupakan salah satu monumen anti-Sjahrir.

Dulunya gedung itu hotel mewah Schomper I, milik L.C. Schomper, pengusaha Belanda. Setelah Jepang berkuasa, tempat itu menjadi salah satu basis Angkatan Baru Indonesia yang diketuai Soekarni.

Di tempat ini, anak-anak muda mendapat gemblengan dari Soekarno, Hatta, Amir Sjarifoeddin, dan Ki Hadjar Dewantara. Namun, setahun kemudian, gedung ini beralih fungsi menjadi kantor Pusat Tenaga Rakjat cabang Jakarta Raya, kemudian menjadi kantor Djawa Hokokai.

Jebolan asrama Angkatan Baru itu membentuk Komite Aksi sehari setelah Indonesia merdeka. Pemimpinnya bersebelas, di antaranya Soekarni, Wikana, dan Chaerul Saleh. "Kesebelasan" Menteng 31 ini bermarkas di Prapatan Sepuluh (sekarang Kwitang). Mahasiswa asrama kedokteran Ika Dai Gaku bergabung dengan kelompok ini.

Malam 22 Agustus 1945, kelompok yang mencetuskan ide "Penculikan Rengasdengklok" itu pecah seusai sebuah rapat di Prapatan Sepuluh yang dihadiri Sjahrir. Mengenakan celana pendek, kemeja putih, dan sepatu tenis, Sjahrir mengajak peserta bersedia berunding dengan Belanda.

"Kalian tidak tahu bahwa Sekutu menang perang dan Belanda salah satu anggota Sekutu," katanya dalam bahasa Belanda, seperti ditulis Alizar Thaib dalam buku 19 September dan Angkatan Pemuda Indonesia. "Sebaiknya kita bentuk organisasi. Biarlah orang-orang Belanda itu kita terima. Sesudah lima tahun, kita adakan pemberontakan."

Kelompok mahasiswa kedokteran menerima gagasan Sjahrir, tapi Chaerul Saleh dan kesatuannya menolak ide itu. Ketika Sjahrir menjadi perdana menteri, pemuda Menteng 31 kembali menentang keras program kabinetnya, yang lebih mengutamakan diplomasi.

Aktivis Menteng 31 lantas membentuk Angkatan Pemuda Indonesia. Mereka menggempur NICA, merebut sarana transportasi, dan mengibarkan Merah-Putih di mana-mana. "Suasana revolusi mulai menyala ketika itu," tulis Adam Malik dalam buku Mengabdi Republik jilid II: Angkatan 45.

Pada 19 November 1945, Sjahrir menetapkan Jakarta sebagai "kota diplomasi". Aktivis Menteng 31 bersama laskar rakyat pendukungnya hijrah ke Karawang, Jawa Barat. "Di sana markas mereka berpindah-pindah," kata Rushdy. Salah satunya Gedong Jangkung di Rengasdengklok, Karawang. Bangunan di pertigaan Pasar Rengasdengklok itu kini sudah menjadi tempat bisnis. Bagian depannya dijadikan gerai telepon dan kartu seluler. Bagian belakangnya malah menjadi rumah burung walet.

Jalan Bersimpang Setelah Proklamasi


SEBENARNYA begitu banyak kemiripan Sutan Sjahrir dan Tan Malaka. Keduanya berdarah Minang, mengecap pendidikan Belanda, dan menolak kerja sama dengan Jepang.


Ketika proklamasi dibacakan, Sjahrir dan Tan tak unjuk diri. Sjahrir memilih berada di tepi, hanya mengamati. Tan sedang di Banten dan baru mengetahui proklamasi setelah mengunjungi rumah Achmad Soebardjo, yang sudah dikenalnya sejak 1920-an. Tapi keduanya kemudian mendapat surat wasiat dari Soekarno. Presiden Soekarno menunjuk empat orang sebagai penggantinya bila dia ditangkap Belanda atau mati: Tan Malaka, Sjahrir, Iwa Kusumasumantri, dan Wongsonegoro.

Oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, Sjahrir dan Tan juga sempat ditawari posisi menteri di kabinet pertama, namun keduanya menolak. Penolakan ini membuat pendukung dan lawan politiknya tak habis pikir.

"Kami terus mendorongnya bertindak," ujar Subadio Sastrosatomo, salah satu pengikut Sjahrir. Pemuda yang kurang sabar dengan sikap Sjahrir, seperti Adam Malik, bahkan menuduh dia, "Sengaja menjauhkan diri dari kesibukan membangun dasar-dasar Republik Indonesia."

Kendati banyak kesamaan, sedari mula bertemu, Sjahrir sudah menunjukkan tanda-tanda bakal bersimpang jalan dengan Tan. Mereka bertemu pertama kali di Bogor sekitar satu setengah bulan setelah proklamasi. Saat itu Sjahrir sudah menjabat Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat.

Dalam pertemuan itu, menurut George McT Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia (1952), Tan mengajak Sjahrir menggusur Soekarno-Hatta. Sjahrir mengelak halus. Dia mengatakan, "Kalau saja Engku punya popularitas sepuluh persen saja dari Soekarno, saya akan mempertimbangkan Engku sebagai presiden." Sjahrir memang sudah berkeliling Jawa dan menemukan betapa kuatnya pengaruh Soekarno.

Dalam pertemuan kedua di Serang, Banten, sekitar dua minggu kemudian, Tan mengusulkan berbagi peran dengan Sjahrir. "Saya akan berkeliling Jawa dan daerah lain. Dan Anda, kawan Sjahrir, akan memperkuat barisan di ibu kota Jakarta," kata Tan. Tapi Sjahrir tak menanggapi. "Malam itu, tak sepatah kata pun diucapkannya," ujar Tan.

Sejak itu keduanya berpisah jalan. Sjahrir, yang kemudian menjadi perdana menteri, melihat pengakuan kedaulatan dari negara lain itu penting, sehingga jalur diplomasi termasuk dengan Belanda perlu dibuka. Bagi Tan, pengakuan kemerdekaan, "Bukanlah syarat eksistensi Republik Indonesia." Dus, berunding dengan Belanda tak ada perlunya.

Dalam banyak hal, Sjahrir berbeda dengan Tan. L.N. Sitoroes, pengikut Sjahrir, mengatakan tak mungkin keduanya bisa bersama memimpin negara. "Tak mungkin terjadi. Salah satu di antaranya mestinya seorang Jawa," kata Sitoroes.

Namun "permusuhan" keduanya sebenarnya panas karena salah paham. Ketika Tan mendeklarasikan program minimum dan Persatuan Perjuangan pada 15 Januari 1946, banyak kalangan melihat itu sebagai oposisi terhadap Perdana Menteri Sjahrir. Tapi, menurut Subadio, Perjuangan hanyalah panggung untuk mendongkrak popularitas Tan. Dan yang diincar Perjuangan bukanlah Sjahrir, melainkan Soekarno.

Hubungan Sjahrir dengan Tan tambah buruk ketika sebulan setelah Persatuan Perjuangan berdiri, Tan dan beberapa anak buahnya ditangkap dan dibui. Tak jelas apa alasannya sebab tak ada pengadilan atas mereka. "Saya tidak mengerti siapa yang melakukan itu, mengapa dan atas wewenang apa," kata Tan, dua tahun kemudian.

Surat perintah penangkapan Tan diteken Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin. Menurut Amir, dia bertindak berdasar perintah tertulis Sjahrir. Entah betul atau tidak pengakuan Amir, sebab tak pernah ditunjukkan surat perintah dari Sjahrir. Pengikut setia Tan, Adam Malik, meyakini penangkapan itu ulah Amir.

Posisi politik Sjahrir saat itu sebenarnya lemah dan terus melemah. Partai Masyumi dan PNI mengajukan mosi tak percaya terhadap kabinet Sjahrir pertama. Dalam kabinet Sjahrir berikutnya, pengaruh Soekarno-Hatta semakin benderang.

Perjalanan politik Tan bisa dibilang sudah tutup buku ketika dia masuk penjara. Pengaruhnya pelan-pelan terkikis. Apalagi setelah dia dituduh berada di balik penculikan Sjahrir di Surakarta pada pertengahan 1946. Tuduhan itu tak terbukti. Menurut Harry Poeze, sejarawan Belanda, otak di balik penculikan Sjahrir ini adalah Mayor Jenderal Soedarsono dan Mohammad Yamin.

Perseteruan Para Kolaborator

RAUT wajah Jenderal Sudirman menegang ketika membaca pamflet Perdjuangan Kita, sekitar November 1945. Pamflet itu merupakan program politik Sutan Sjahrir lima hari sebelum menjadi perdana menteri. Sjahrir menegaskan kemerdekaan penuh bisa diraih lewat diplomasi. Cara yang akan ditempuhnya pertama-tama "menyingkirkan semua kolaborator Jepang".


Sudirman marah karena Pasukan Pembela Tanah Air (Peta) yang dipimpinnya tak lain bentukan Jepang. "Pernyataan itu kurang bijak dan menyinggung perasaan kalangan PETA," katanya kepada Adam Malik seperti tertuang dalam buku Mengabdi Republik (1978). "Jika diplomasi itu memecah persatuan kita, saya tak segan mengambil kebijakan sendiri."

Sejak itu perseteruan Sudirman-Sjahrir tak terelakkan. Sudirman kemudian bergabung dengan Tan Malaka dalam Persatuan Perjuangan, kelompok yang menampung 141 wakil organisasi politik, tentara, dan pemuda radikal. Keduanya menjadi penentang paling keras politik diplomasi Sjahrir. Mereka mendesak Presiden Soekarno memecatnya.

Sudirman menganggap Sjahrir mengkhianati cita-cita proklamasi karena diplomasinya menyodorkan opsi pengakuan kemerdekaan kepada Jawa dan Madura saja, juga pembentukan Republik Indonesia Serikat. Menurut Sudirman, mestinya Sjahrir mendesak Belanda, Inggris, dan Sekutu mengakui kedaulatan seluruh wilayah Indonesia, setelah Jepang menyerah dalam Perang Pasifik.

Oposisi itu mengeras karena Soekarno-Hatta ternyata lebih condong kepada jalan Sjahrir. Orang Persatuan Perjuangan bahkan menuding Soekarno mengendalikan politik Sjahrir dari jauh.

Di tengah situasi panas itu, Muhammad Yamin yang merapat ke kubu Persatuan menemui Bung Karno di Istana Negara. Pertemuan yang ditafsirkan upaya makar itu kian menggolakkan suhu politik. Sjahrir mendadak meletakkan jabatan perdana menteri. Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin menangkap 12 pemimpin Persatuan. Bung Karno menyatakan keadaan darurat perang.

Tentara yang pro-Persatuan membalas penangkapan itu dengan menculik Sjahrir yang sedang berkunjung ke Solo pada 27 Juni 1946. Dengan kembali memimpin pemerintahan, Soekarno meminta Sjahrir dibebaskan. Untuk sementara perseteruan mereda sampai Soekarno kembali menunjuk Sjahrir sebagai perdana menteri, 2 Oktober 1946.

Perseteruan antarpemimpin sipil itu kian terbuka. Para pemuda Persatuan bahkan baku tembak dengan tentara ketika mencegat mobil yang ditumpangi Amir Sjarifoeddin.

Sjahrir, sementara itu, tetap melanjutkan diplomasi dengan menggelar Perundingan Linggarjati, Renville, hingga Konferensi Meja Bundar. Para penentangnya menuding perjanjian itu gagal dan memberi Sekutu peluang lebih lama bercokol di Indonesia. Sementara oleh pendukungnya, Sjahrir dianggap sukses karena soal pendudukan ini tetap menjadi isu internasional.

Rosihan Anwar, misalnya, menilai Sudirman terlalu terpengaruh gerakan radikal pendukung Tan Malaka, yang menginginkan konfrontasi. Menurut Rosihan, wartawan harian Pedoman dan simpatisan Partai Sosialis Indonesia, Sjahrir bukan tak sadar pertikaian di dalam itu melemahkan program politiknya sendiri.

Suatu kali, November 1946, Sjahrir meminta Sudirman yang sedang bergerilya di hutan-hutan Yogyakarta datang ke Jakarta. Sjahrir menawarkan gencatan senjata dengan Sekutu. Di luar dugaan, Sudirman mau dengan ajakan itu. "Tapi dia cuma sampai Cirebon," kata Rosihan, kini 87 tahun, tiga pekan lalu. "Dia takut ditangkap tentara Sekutu."

Sjahrir kembali meyakinkan bahwa Sudirman adalah pemimpin yang dihormati sehingga tak mungkin ditangkap. Kali ini bujukan itu dipenuhi Sudirman. Ia keluar dari hutan dan menemui Sjahrir di Istana.

Dengan gaya flamboyannya, Sjahrir menyambut jenderal besar yang paru kirinya sudah mati itu dengan upacara megah. "Saya lihat dia kagum dengan cara Sjahrir memperlakukannya," kata Rosihan. Setelah pertemuan itu Sudirman melunak dan tak lagi menyangka Sjahrir bersekongkol dengan Sekutu.

Menjelang meninggal, Januari 1950, Sudirman mengatakan kepada Sultan Hamengku Buwono IX, yang menjenguknya saat sakit, bahwa Sjahrir adalah pemimpin besar yang pantas memimpin Republik. "Saya dengar cerita ini dari Sultan sekitar Februari 1950," kata Rosihan.

Senin, 09 Maret 2009

Sosok Penyendiri dalam Tahanan

JIKA tembok itu bisa berkata, dia akan berkisah tentang seseorang yang pernah terkurung di baliknya. Tembok kukuh itu menjulang setinggi enam meter, membentengi bangunan tua tak terawat di Jalan Ahmad Yani 9, Madiun, Jawa Timur. Cat putihnya luntur termakan umur dan sebagian dindingnya bopeng dipenuhi lubang. Empat gardu pos pantau yang terpacak di setiap sudut menjadi ciri bangunan itu bekas rumah tahanan. Di sinilah, 47 tahun silam, Sutan Sjahrir dipenjarakan selama delapan bulan karena dituding berniat menggulingkan kekuasaan Soekarno.

Tidak mudah menemukan rumah tahanan Sjahrir ini. Di samping jalannya sudah berubah nama-dulu Jalan Wilis-masyarakat di sekitarnya tidak tahu bahwa Sjahrir pernah ditahan di tempat ini. Sejak 1980, rumah tahanan Detasemen Polisi Militer Madiun ini sudah tidak berfungsi. Masyarakat memberikan cap angker kepada tempat seluas 3.800 meter persegi ini.

Pintu jati bercat hijau setinggi tiga meter beratap genting lapuk di bagian depan merupakan satu-satunya akses masuk. Penjara ini memiliki enam blok, cukup untuk menampung 400 tahanan. Adalah Admin, purnawirawan TNI, yang diberi tugas menempati bangunan ini bersama istri dan kedua anaknya sejak 1991. Admin mengaku tak sanggup mengurus semua blok. "Tetapi saya sudah menganggap ini rumah sendiri, begitu juga dengan hantu-hantunya."

Dia menyulap bekas ruang administrasi dan kesehatan menjadi ruang keluarga. Bekas kantor kepala tahanan diubah menjadi garasi motor. Beberapa ruang juga dipakai sebagai kandang ayam. Blok B tampak tak terlalu kumuh. Persis di samping blok ini terdapat kamar tahanan khusus wanita.

Admin tak tahu persis keseharian Sjahrir karena saat itu dia belum bertugas. Menurut Kasboel Hadi Pranoto, 89 tahun-yang bertugas menjadi sipir penjara saat Sjahrir ditahan-di blok B inilah Sjahrir bersama Prawoto, Anak Agung, Subadio, Sultan Hamid, dan Mohammad Roem ditahan. Blok berbentuk L ini memiliki 13 kamar . Ada lima kamar yang cukup untuk menampung dua tahanan, dan delapan kamar lain, yang luasnya lebih besar, cukup untuk 15 tahanan. Sjahrir menjalani masa penahanan di salah satu kamar besar ini.

Sewaktu Tempo melongok ke blok itu, kamar-kamarnya sangat kotor. Setiap ruangan penuh sarang laba-laba. Atap kamar sudah berantakan. Jeruji jendela, lubang angin, dan pintu sel sudah berkarat. Halaman di depan penuh rumput liar setinggi dada. Di salah satu bagian dinding terpampang coretan "Sembahyanglah kamu sebelum disembahyangkan".

Sjahrir ditahan di sini sejak pertengahan Maret 1962. Sebelum ke Madiun, Sjahrir ditahan di salah satu rumah di Jalan Daha, Kebayoran, Jakarta, selama tiga bulan. Akibat menderita tekanan darah tinggi, Sjahrir sempat dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, Jakarta. Itulah sebabnya, Sjahrir bertahan di Madiun hingga 18 November 1962.

Menurut Kasboel Pranoto, selama di penjara, Sjahrir terkenal pendiam. Hal ini juga dibenarkan oleh teman Sjahrir sesama tahanan Madiun, Mohammad Roem, seperti diutarakan Rosihan Anwar kepada Tempo. Menurut Kasboel, Sjahrir dan kawan-kawannya diperlakukan sangat manusiawi dan selalu bebas berolahraga di luar tahanan. Makanan dan kesehatan pun terjamin. Roem juga mengakui hal ini. Namun, kata Roem, Sjahrir tidak pernah bergabung untuk main badminton setiap hari di jalan depan sel mereka. Sjahrir juga absen main bridge atau scrabble setiap malam. "Tetapi, ketika kami diberi kesempatan main tenis dan berenang di luar penjara, Sjahrir ikut," kata Roem.

Rosihan, yang mengunjungi Sjahrir pada Oktober 1962, menjumpai Sjahrir dalam keadaan baik, hanya mengeluh tidak bisa mengikuti perkembangan di luar penjara lebih lengkap. Anak kedua Sjahrir, Upik, yang pernah berkunjung ke Madiun, menuturkan ayahnya lebih senang membaca dan menulis di kamar. Sjahrir juga rajin mendengarkan radio. "Papa tidak pernah marah apalagi dendam. Memang pembawaannya begitu," kata Upik.

Menurut Roem kepada Rosihan, secara umum hari-hari di Madiun berjalan begitu sedap. Kasboel juga membenarkan hal itu. "Tidak pernah ada intimidasi dan penyiksaan," katanya. Ketika Sjahrir ditahan di Jalan Daha, ia juga menerima perlakuan yang sama. Bersama Roem dan Prawoto, dia ditahan di sebuah rumah yang memiliki kolam renang. Keluarga tidak pernah diberi kesempatan mengunjungi tempat ini. "Tempatnya dirahasiakan," kata Rosihan.

Sayangnya, tidak ada jejak tentang rumah itu. Saat Tempo menyusuri Jalan Daha, setiap sudut jalan penuh sesak oleh rumah baru yang mewah. Warga sekitar kawasan itu mengaku tidak tahu soal rumah ini, termasuk ketua RW Soemarsono, yang sudah 35 tahun tinggal di jalan tersebut. Kedua anak Sjahrir, anak angkat Sjahrir Des Alwi, dan Rosihan Anwar juga mengaku kurang banyak mengetahui soal rumah ini. Namun keempatnya mengungkapkan hal yang sama soal kondisi Sjahrir saat ditahan di Jalan Daha. "Sjahrir mulai merasakan siksaan batin karena terpisah dari keluarganya. Ia jauh lebih menderita dibanding ketika dibuang Belanda, karena saat itu Sjahrir bujangan."

Tiga Serangkai Ahli Waris Revolusi

Hubungan Sjahrir dengan tokoh-tokoh revolusi Indonesia tak selalu harmonis. Dengan Soekarno, yang mengangkatnya sebagai perdana menteri, ia bentrok soal cara berunding dengan Belanda. Dengan Tan Malaka, ia tak akur perihal ideologi. Dan Sudirman tersinggung karena Sjahrir menyebutnya antek Jepang.


SUASANA rapat Pemuda Indonesia di Bandung itu tiba-tiba mencapai suhu tinggi. Soekarno diinterupsi oleh Suwarni. Ketua Putri Indonesia itu protes karena Soekarno terlalu sering mencampuradukkan bahasa Indonesia, Belanda, dan Sunda dalam ceramahnya. Ia juga gerah karena Bung Besar terlalu menggebu membanggakan Partai Nasional Indonesia-partai yang ia dirikan dan baru seumur jagung. "Bung, ini bukan tempat buat propaganda PNI," kata Suwarni ketus.

Soekarno terkejut. Ia tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu. Dia marah dan balas menyerang Suwarni dalam bahasa Belanda. Melihat kejadian itu, Sutan Sjahrir-pimpinan pertemuan-langsung mengetukkan palu. Dia meminta Soekarno tidak bicara melipir ke mana-mana. Pemuda 18 tahun itu bahkan minta Soekarno tidak bicara kasar kepada perempuan. Ia mengingatkan Soekarno tidak memakai bahasa Belanda. Sudah jadi ketentuan, bila perhimpunan itu bertemu, penggunaan bahasa Indonesia wajib hukumnya.

Teguran itu manjur. Setahun sebelum Sumpah Pemuda, pemakaian bahasa Indonesia memang digalakkan. Pada masa itu, banyak pemuda yang belepotan dalam berbahasa Indonesia. Bahasa ini menarik minat karena dinilai bebas dari tradisi feodal. Soekarno, yang usianya lebih tua sembilan tahun dari Sjahrir, menyadari kekeliruannya. Ketua Partai Nasional Indonesia itu minta maaf.

Kejadian pada akhir 1927 itu berbekas buat Soekarno. Dia tidak pernah lupa sosok Sjahrir. Ia sering datang ke pertemuan Pemuda Indonesia. Sebaliknya, Sjahrir sesekali mengikuti perdebatan di kelompok Soekarno. Pemuda Indonesia dan PNI, kata Soekarno, "Satu kesatuan yang tak terpisahkan."

Tapi pertalian keduanya hanya sejenak. Pada Juni 1929, Sjahrir meneruskan studi ke Belanda. Di negeri ini ia bertemu Mohammad Hatta, Ketua Perhimpunan Indonesia. Berkat bimbingan dan dorongan Hatta, Sjahrir masuk Perhimpunan Indonesia. Hatta mendidik Sjahrir, Abdullah Sukur, dan Rusbandi. Enam bulan berselang, Sjahrir menjadi pembicara utama dalam pertemuan organisasi itu. Pada Mei 1930, Sjahrir sudah jadi orang nomor dua di perhimpunan itu.

Rudolf Mrazek, dalam bukunya Sjahrir, Politics and Exile in Indonesia, melukiskan bahwa di antara Sjahrir dan Hatta terdapat kesamaan yang kuat. Lahir dari tanah Minang, mereka sama-sama menyerap pengalaman dari sistem pendidikan etis kolonial. Mereka juga sama-sama berutang budi kepada kerabat keluarga yang membantu menyekolahkan hingga ke Belanda. Itu sebabnya di antara keduanya tumbuh rasa saling pengertian yang kuat. "Sjahrir hormat sekali kepada Hatta," ucap Rosihan Anwar, wartawan senior. Sebaliknya, Hatta sayang pada Sjahrir.

Keduanya juga punya pandangan yang sama. Menurut mereka, study club yang didirikan Abdoel Karim Pringgodigdo di Jakarta dan Inoe Perbatasari di Bandung harus mengutamakan pendidikan rakyat. Gerakan perlawanan setelah Soekarno ditangkap ini menamai dirinya "golongan merdeka".

Hatta menyarankan "golongan merdeka" menerbitkan jurnal, yang memiliki misi untuk pendidikan rakyat. Pendidikan, kata Sjahrir, harus menjadi tugas utama pemimpin politik. Keduanya sama-sama ingin berkecimpung dalam pendidikan sepulangnya dari Belanda. Akhir Agustus 1931, "golongan merdeka" dari berbagai kota melebur menjadi Pendidikan Nasional Indonesia.

Namun keterlibatan mereka dengan politik Tanah Air menuai kritik. Mahasiswa Indonesia yang dekat dengan Partai Komunis Belanda menuduh Hatta bertindak di luar ketentuan Perhimpunan. Dalam pertemuan pada November 1931, Hatta dipecat dari organisasi itu. Sjahrir satu-satunya yang menentang keputusan tersebut. Ia pun meninggalkan perhimpunan.

Keduanya lalu berencana pulang ke Tanah Air. Tapi Hatta harus merampungkan sisa studinya. Akhirnya disepakati, Sjahrir pulang lebih dulu pada November 1931. Bila sudah rampung, Hatta menyusul ke Indonesia, Sjahrir kembali ke Belanda melanjutkan kuliahnya. Nyatanya, Sjahrir tidak pernah balik lagi ke Belanda.

Keduanya sibuk memimpin Pendidikan Nasional Indonesia. Mereka ditangkap polisi Belanda pada Februari 1935. Sembilan bulan kemudian dibuang ke Boven Digul. Pada 1936 dikirim ke Banda Naira, dan kembali ke Jawa pada Januari 1942 sebelum Jepang datang.

Enam bulan kemudian, Sjahrir dan Hatta bertemu Soekarno yang baru pulang dari pengasingan di Palembang. Hari itu juga ketiganya rapat di rumah Hatta. Mereka sepakat: Soekarno-Hatta bekerja sama dengan Jepang, dan Sjahrir bersama Persatuan Mahasiswa di Jakarta menyusun perlawanan bawah tanah.

Hubungan ketiganya terus berlanjut. Sjahrir, sesudah proklamasi, menjadi Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat. Soekarno setuju Sjahrir membentuk kabinet parlementer. Sjahrir diangkat menjadi perdana menteri merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.

Ketika ibu kota dipindahkan ke Yogyakarta, Sjahrir seminggu sekali naik kereta api menemui Soekarno-Hatta. "Langkah demi langkah dia laporkan ke Soekarno-Hatta," kata Rosihan. Soekarno bahkan melindungi Sjahrir saat kabinet pertama hendak digulingkan oleh Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka. Hubungan baik itu, kata dia, berlanjut hingga perundingan Linggarjati. Kepemimpinan Sjahrir bertahan hingga tiga kabinet.

Setelah itu ia menjadi penasihat istimewa presiden. Saat Belanda melancarkan aksi militer kedua pada Desember 1948, Soekarno-bersama Agus Salim dan Sjahrir-diasingkan ke Brastagi dan Prapat, Sumatera Utara. Sedangkan Hatta, bersama Menteri Pendidikan Ali Sastroamidjojo dan Sekretaris Negara A.K. Pringgodigdo ditahan di Pulau Bangka.

Nah, di Prapat inilah, kata Rosihan, Sjahrir merasa kesepian. Sekali waktu Soekarno mandi dan melantunkan lagu One Day When We Were Young cukup keras. Sjahrir merasa terganggu. Dia berteriak, "Hous je mond (tutup mulutmu)." Soekarno bilang ke Agus Salim, "Siapa dia, marah-marah dan berani bentak. Saya ini kepala negara". Sjahrir juga pernah mengkritik Soekarno yang meminta kemeja Arrow kepada pengawal Belanda. "Kamu kan presiden, jaga gengsi dong," kata Sjahrir. Soekarno jengkel.

Hubungan keduanya kian renggang setelah Perdana Menteri Belanda Willem Drees datang ke Jakarta, awal 1949. Dress minta berunding dengan Sjahrir sebagai sesama orang sosialis. Sjahrir memenuhinya. Tetapi pertemuan itu tidak menghasilkan apa-apa. "Sjahrir menolak mengikuti permintaan Belanda," kata Rosihan. Tetapi Sjahrir tidak kembali ke Prapat karena diizinkan menetap di Jakarta. Soekarno marah. Ia menganggap Sjahrir mengkhianati perjuangan. "Kenapa dia tak kembali ke sini? Kalau begitu dia tak setia," ujarnya.

Cerita itu didapat Rosihan dari Mohammad Roem. Roem mendapat cerita itu dari Agus Salim, katanya. Rosihan pernah menanyakan percekcokan itu kepada Soekarno pada awal 1951. Saat itu mereka tengah melihat rumah di Prapat tempat Soekarno, Sjahrir, dan Agus Salim ditahan. "Betulkah ada ruzie (percekcokan), bung?" Soekarno tidak menjawab.

Puncak keretakan Sjahrir-Soekarno terjadi awal 1962, saat iring-iringan Presiden di Makassar dilempar bom. Sjahrir ditangkap atas peristiwa itu. Menurut A.H. Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas, Soekarno otak di balik penahanan itu. Surat dikeluarkan Soekarno sebagai Penguasa Perang Tertinggi. Surat itu diteken Menteri Luar Negeri Soebandrio dan Nasution sebagai Menteri Pertahanan.

Tapi, kata Nasution, saat surat diteken, nama Sjahrir belum muncul. "Saya hanya diminta menandatangani blangko kosong," katanya. Nama-nama tersangka akan ditulis setelah pemeriksaan. Nyatanya, setelah surat diteken, Sjahrir ditangkap di rumahnya pukul empat pagi, 16 Januari 1962.

Menurut Des Alwi, anak angkat Sjahrir, seorang wartawan bernama Manopo pernah menemui Nasution. Manopo berpesan agar Soekarno waspada bila bepergian ke Makassar karena Sjahrir dan Mohammad Roem akan membunuhnya. Nasution tidak percaya laporan itu. "Kamu ngomong begini bisa ditangkap," Nasution menggertak. Tapi laporan itu, kata Des, sampai ke tangan Soekarno lewat orang-orang komunis. Soekarno percaya.

Hatta pernah mengirim surat kepada Soekarno mempertanyakan penahanan itu. Ia mengkritik hukuman penjara yang gaya kolonial. Tuduhan keterlibatan Sjahrir dalam perbuatan teror itu, kata Hatta, tidak masuk akal. Tapi surat itu tidak digubris. "Bung Karno sudah paranoid," kata Rosihan.

Sejak itu kondisi fisik Sjahrir merosot. Soekarno akhirnya mengizinkannya berobat ke Zurich, Swiss, pertengahan 1965. Ia wafat 9 April 1966. Menurut Des, gelar pahlawan nasional sudah disiapkan satu bulan sebelumnya. Hatta lalu mengatur pemakaman. Ia juga yang berpidato. "Saya tahu Hatta sedih betul," kata Rosihan.

Patah Arang Kawan Seiring

Bersama Agus Salim, Charles Tambu, Sumitro Djojohadikusumo & Soedjatmoko, di Lake Success, 1947.
SUATU siang pada awal 1957. Jaksa Agung Muda Intelijen Priyatna Abdurrasyid mendatangi kediaman Sumitro Djojohadikusumo di Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dia membawa surat perintah penangkapan Bung Cum-demikian Sumitro, tokoh teras Partai Sosialis Indonesia, biasa dipanggil kawan-kawan dekatnya.

"Waktu itu saya memang mendapat perintah menangkap Sumitro. Ketika saya tanya apa kesalahannya, jawaban atasan saya: tangkap saja, titik," kata Priyatna kepada Tempo dalam sebuah wawancara pada Agustus 2008.


Pada 1956-1957, gerakan pemberantasan korupsi memang sedang gencar. Sejumlah kasus korupsi yang melibatkan pejabat tinggi sampai level menteri dibongkar. Namun, kata Priyatna, belakangan Presiden Soekarno memprotes melihat hampir semua menteri yang ditangkap berasal dari Partai Nasional Indonesia. "Bung Karno sempat tanya, mana menteri dari Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia," kata Priyatna, yang ketika itu anggota Tim Pemberantasan Korupsi Kejaksaan Agung.

Salah satu pentolan Partai Sosialis Indonesia di parlemen saat itu adalah Djoeir Moehamad. Dia mengaku masih ingat koran-koran yang berafiliasi pada Partai Nasional Indonesia dan Partai Komunis Indonesia, seperti Harian Rakjat dan Bintang Timur, terus memberitakan kasus dugaan korupsi Sumitro. "Ada desakan agar dia diajukan ke pengadilan," tulisnya dalam buku Memoar Seorang Sosialis yang terbit pada 1997.

Sumitro tentu heran dengan tudingan itu. Kepada Priyatna, dia sempat bertanya, apa kesalahannya. Priyatna tak bisa menjelaskan. "Pokoknya, perintahnya adalah tangkap, titik," katanya. Bung Cum menolak. Setelah bernegosiasi sebentar, Priyatna mengaku setuju membiarkan Sumitro "menghilang". Priyatna tak pernah menyesali perbuatannya. "Saya lakukan itu dengan keyakinan dia tidak bersalah," katanya kemudian.

Dengan restu Sjahrir, Sumitro menyeberang ke Sumatera. Di sana, dia bergabung dalam pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)/Permesta.

***

"WAKTU itu memang ada isu bahwa Sumitro melakukan korupsi, memberikan dana kepada PSI dalam pemilihan umum," kata wartawan senior Rosihan Anwar, awal Februari lalu. "Saya kira isu itu ada benarnya, tapi jumlahnya kecil. Tidak seperti sekarang ini, besar-besar."

Minarsih Soedarpo, kawan dekat keluarga Sjahrir, mengaku masih ingat ketika Sumitro, yang tersudut oleh berbagai kabar rencana penangkapan dirinya, bergegas menemui Sjahrir. "Oleh Sjahrir, dia diminta ke Padang, Sumatera Barat, membantu mengajar di Universitas Andalas," kata Minarsih, istri tokoh Partai Sosialis Indonesia, Soedarpo Sastrosatomo. Dalam diskusi dengan Tempo tiga pekan lalu, Minarsih (Mien) Soedarpo memastikan Sjahrir tak pernah mengutus Sumitro untuk bergabung dengan PRRI/Permesta.

Pada Mei 1957, Sumitro naik kereta api dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Merak, Banten. Asisten pribadinya, Priasmoro, turut mendampingi. "Dari Merak, Sumitro naik perahu bermotor ke Lampung, terus naik kereta api ke Palembang, lalu ke Padang," tulis Djoeir.

Pada Januari 1958, tersiar kabar telah terjadi pertemuan penting di Sungai Dareh, Sumatera Barat. Para petinggi militer yang memberontak terhadap Jakarta, Letnan Kolonel Ahmad Husein, Kolonel Maluddin Simbolon, Kolonel Dahlan Jambek, dan Kolonel Ventje Sumual, berkumpul di sana. Sumitro Djojohadikusumo juga bergabung. Pada Februari 1958, Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia dideklarasikan. Sumitro didaulat menjadi Menteri Perhubungan dan Pelayaran Kabinet PRRI.

Keterlibatan Sumitro dalam pemberontakan di Sumatera mengejutkan pengurus pusat Partai Sosialis Indonesia. "Sjahrir sudah menegaskan kepada Sumitro, boleh melakukan oposisi, tapi jangan bentuk pemerintah tandingan," kata tokoh Partai Sosialis Indonesia, Soebadio Sastrosatomo, saat diwawancarai Rosihan Anwar pada November 1994. "Sumitro tidak menggubris ucapan Sjahrir," ujar Rosihan kepada Tempo.

Sebelum deklarasi PRRI, sejumlah petinggi Partai Sosialis Indonesia sudah berusaha mengingatkan Sumitro. Djoeir Moehamad diutus menemui Sumitro di Padang. Setelah Djoeir gagal, giliran Soedarpo Sastrosatomo yang menjumpai Bung Cum. Terakhir, kakak Soedarpo, Soebadio Sastrosatomo, berbicara panjang dengan Sumitro di Singapura. Semuanya gagal menarik Sumitro dari PRRI.

"Waktu itu Sjahrir berpesan kepada Soedarpo agar menanyakan kepada Sumitro berapa kebutuhan hidup sehari-hari dia sekeluarga," kenang Mien. Tak disangka, Sumitro tersinggung ditanyai seperti itu. "Dia marah sekali," kata perempuan 72 tahun yang daya ingatnya masih kuat dan jernih ini. Sumitro balik menuding kawannya telah kehilangan semangat revolusioner. "Kita mesti bikin revolusi, kita mesti melawan Soekarno," kata Sumitro seperti diingat Soebadio.

Setelah pertengkaran itu, Sumitro dan rekan-rekannya di Partai Sosialis Indonesia putus hubungan.

Ketika diwawancarai Tempo pada 1999, Sumitro punya penjelasan berbeda 180 derajat. Dia mengaku mendapat restu Sjahrir untuk memberontak. "Dua hari sebelum ke Sumatera, saya berbicara dengan Sjahrir. Saya bilang, 'Bung, saya mau hijrah dan bergabung dengan daerah.' Sjahrir mengatakan, 'Oke, Cum. Tapi kok daerah seperti tersingkir sendiri. Ada Dewan Banteng, Dewan Gajah, Dewan Garuda. Usahakan semua itu agar bisa bersatu'," kata Sumitro.

Saat itu, Sumitro terus terang mengaku sudah tak sejalan lagi dengan Partai Sosialis Indonesia. "Saya tidak mungkin kembali. Setiap kali saya masuk kabinet, saya dibilang bukan wakil PSI. Kalau gagal, mereka bilang itu kesalahan saya. Kalau berhasil, mereka bilang, 'Dia (Sumitro) orang kita.' Bagaimana itu?" kata Sumitro getir.

***

PERJUANGAN PRRI/Permesta tak berumur panjang. Di bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani dan Jenderal Abdul Haris Nasution, Tentara Nasional Indonesia memukul balik pasukan pemberontak.

Mundurnya bala bantuan Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA)-yang balik kanan setelah salah satu pilotnya, Allan Pope, tertembak jatuh di Ambon pada Mei 1958-menjadi faktor penentu gagalnya PRRI/Permesta. Pasukan terakhir kaum gerilyawan ini turun gunung dan menyerah pada 1961.

Sumitro sendiri lari ke luar negeri. Bersama keluarganya, dia hidup sebagai buron selama sepuluh tahun. Demi keamanan, Sumitro tak mau tinggal di satu tempat lebih dari dua tahun. Dia berpindah-pindah dari Singapura, Hong Kong, Kuala Lumpur, Zurich, London, sampai Bangkok.

Masa pelarian itu, kata Sumitro, adalah periode paling pahit dalam hidupnya. "Bahagiakah orang yang menjadi buron, dimaki-maki, berpindah-pindah negara, tanpa paspor, uang, dan kewarganegaraan, tanpa bisa memastikan apa yang akan terjadi setelah itu?" katanya dalam wawancara 10 tahun silam itu.

Rasa pahit tak hanya dirasakan keluarga Sumitro. Pada 21 Juli 1960, pimpinan Partai Sosialis Indonesia dipanggil menghadap Presiden Soekarno di Istana Merdeka, Jakarta. Sjahrir datang, didampingi pengurus pusat partai: Djohan Sjahruzah, Soebadio Sastrosatomo, T.A. Murad, dan Djoeir Moehamad. Mereka diminta menjelaskan posisi Partai Sosialis Indonesia terkait dengan pemberontakan PRRI/Permesta.

Sepekan kemudian, Sjahrir mengirim surat jawaban ke Istana. "Sekalipun kami paham dan membenarkan perjuangan daerah, pembentukan pemerintahan pusat yang baru di samping pemerintahan yang ada kami anggap sebagai malapetaka," tulis Sjahrir, seperti dikutip Djoeir Moehamad dalam buku memoarnya, "Perpecahan bangsa pasti tidak membawa penyelesaian, bahkan sebaliknya."

Namun jawaban Sjahrir tidak bisa mengubah pendirian Soekarno. Pada 17 Agustus 1960, Presiden membubarkan Partai Sosialis Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 201 Tahun 1960. Dua tahun kemudian, Sjahrir dan sejumlah tokoh Partai Sosialis Indonesia lain ditangkap. Pada April 1966, Sjahrir meninggal sebagai tahanan politik.

***

LIMA tahun setelah tragedi pembubaran Partai Sosialis Indonesia, pecah Gerakan 30 September 1965. Rezim berganti. Naik ke kursi presiden, salah satu tindakan politik pertama Soeharto adalah merangkul kembali musuh-musuh Soekarno. Para pentolan PRRI/Permesta tidak lagi dikucilkan. Tak terkecuali Bung Cum.

Soeharto bahkan secara khusus mengutus salah satu tangan kanannya, Ali Moertopo, menjemput Sumitro di Bangkok, Thailand, pada November 1966. Enam bulan kemudian, Sumitro pulang ke Indonesia, langsung diangkat menjadi Menteri Perdagangan pertama Orde Baru.

Meski Sumitro sudah kembali ke lingkaran elite kekuasaan, perseteruan lama dengan bekas kawannya sebarisan di Partai Sosialis Indonesia terus berlanjut. "Dalam sejumlah pertemuan, meski sudah bertemu muka, Sumitro tak pernah menyapa saya," kata Rosihan. Mien Soedarpo membenarkan. Katanya, "Hubungan kami sudah patah arang."

Akhir Sang Meteor

Gamang dalam politik massa, Partai Sosialis Indonesia gagal dalam pemilihan umum. Sjahrir pun terpinggirkan.

PEMILIHAN umum baru sehari berselang, 30 September 1955. Penghitungan suara belum lagi tuntas. Namun Sutan Sjahrir hakul yakin, Partai Sosialis Indonesia (PSI) kalah bertanding. �Kita tidak mendapat dukungan rakyat,� katanya kepada sejumlah aktivis partai yang berkumpul di rumahnya di Jalan Jawa, Menteng, Jakarta Pusat.

Sebenarnya, sejumlah anggota partai masih berharap kabar lebih menggembirakan. �Kami masih menunggu ada tambahan suara dari daerah,� kata Rosihan Anwar, yang ikut hadir di rumah Sjahrir. Rosihan, sekarang 86 tahun, saat itu adalah pemimpin harian umum Pedoman, salah satu media pendukung PSI. Ia juga calon wakil rakyat yang berlaga di daerah pemilihan Sumatera Selatan.

Hari-hari berikutnya, perhitungan suara selesai sudah. Benar kata Bung Kecil, ternyata partai yang ia dirikan pada 1948 ini hanya meraup 753 ribu suara dari total 38 juta pemilih, dan menempati urutan kedelapan. Jumlah suara itu hanya cukup mengantar lima kader PSI menuju Bandung, tempat wakil rakyat berkantor.

Toh, tiada nada kekecewaan dalam ucapan Sjahrir. �Dia santai saja, bicaranya datar, tidak menunjukkan kekesalan,� kata Rosihan, yang juga tak terpilih menjadi wakil rakyat.

Dalam pesta politik pertama itu, empat partai tampil sebagai kampiun. Mereka adalah Partai Nasional Indonesia dengan 57 kursi, Majelis Syuro Muslim yang meraup 57 kursi, Nahdlatul Ulama dengan 45 kursi, dan Partai Komunis Indonesia yang mendapat 39 kursi.

Hasil pemilu ini membuat Partai Sosialis terasing dari koalisi pemerintahan yang dimotori Partai Nasional dengan patronnya Soekarno. Agaknya, gagasan sosialisme kerakyatan yang diusung Partai Sosialis �kurang laku dijual�.

Tapi, jangan dulu kecewa. Masih ada pemilu ronde kedua, yakni pada 15 Desember 1955. Mungkin saja Partai Sosialis bisa meraih simpati lebih besar.

Ronde kedua pun digelar. Kali ini 35 peserta, partai dan perorangan, berlaga memperebutkan 514 kursi Konstituante. Ini lembaga yang dibentuk untuk menyusun konstitusi pengganti Undang-Undang Dasar Sementara 1950. Tapi, lagi-lagi, Partai Sosialis gagal unjuk gigi dan hanya bisa memperoleh sepuluh kursi. Empat juara dalam pemilihan sebelumnya memperoleh kursi rata-rata dua kali lipat.

Sejatinya, pertanda kekalahan Partai Sosialis sudah dirasakan sejak masa kampanye. �Kami tidak punya sumber daya manusia yang cukup, dananya terbatas pula,� kata Rosihan.

Rosihan pun bukan kader partai. Dia merelakan namanya dicomot dan dijadikan calon anggota Dewan. �Waktu itu koran saya, Pedoman, paling banyak dibaca di Palembang, dan kami mengira saya akan dipilih,� kata Rosihan. Apa boleh buat, perkiraan meleset. Dari daerah pemilihan Sumatera Selatan, tak ada calon Partai Sosialis yang mewakili.

Menurut Rahman Tolleng, 71 tahun, aktivis dan pengikut Sjahrir, awalnya Partai Sosialis tidak berniat mengikuti pemilihan umum. Sikap itu berubah setelah beberapa kali dilakukan pertemuan partai. Akibatnya, tanpa persiapan matang, partai ini terjun dalam kontes politik. �Semuanya dilakukan tergesa-gesa,� kata Rahman.

Hanya dua bulan sebelum pemilihan umum, Partai Sosialis menggelar kongres kedua di Jakarta. Kongres yang di kemudian hari disebut Sjahrir, dalam sebuah artikel, sebagai ajang tamasya dan pesta bagi para peserta.

Rudolf Mrazek juga menekankan pertanda kekalahan yang tampak di masa kampanye. Penulis buku Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia ini mengatakan bahwa Partai Sosialis menghadapi dilema untuk menceburkan diri dalam politik massa. Sebagai partai kader, rapat-rapat umum gamang dilakukan. �Terbukanya partai merupakan proses yang sangat ragu-ragu,� katanya. Sitoroes, Sekretaris Jenderal Partai Sosialis Indonesia, menilai terbukanya partai hanya akan membuat partai tenggelam dalam aktivitas yang disebutnya sebagai �politik murah� dan �demagogi�.

Rosihan berkisah, Partai Sosialis tersapu gegap-gempita slogan partai rakyat miskin yang didengungkan Partai Komunis Indonesia. �Partai Sosialis tak bisa mengumpulkan ribuan orang seperti yang dilakukan Komunis,� kata Rosihan. Rakyat miskin, yang menurut prediksi Sjahrir�dalam wawancara dengan George Kahin pada Desember 1954�sudah apatis dan mengalami kelesuan umum terhadap politik, ternyata berbondong-bondong memberikan suara.

Kepada Tempo, Apih Safari, 76 tahun, kader partai di Sumedang, Jawa Barat, menegaskan bahwa Sjahrir memang sengaja membatasi jumlah anggota partai. �Partai itu tidak perlu banyak anggotanya, yang penting memahami teori perjuangan,� katanya. Di Sumedang, misalnya, Partai Sosialis Indonesia hanya memiliki 25 anggota.

Bukan Sjahrir jika tak percaya diri. Sjahrir tetap optimistis, tanpa pengerahan massa, partainya akan berhasil. Paling tidak, perolehan kursi bakal lebih banyak dibanding 14 kursi yang diduduki partai ini di Dewan Perwakilan Rakyat Sementara. Optimisme ini pula yang membuat Sjahrir memilih tidak melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat di tingkat lokal. Walhasil, seperti kita ketahui, Partai Sosialis kalah meskipun tidak gagal total.

Dua persen suara yang diperoleh Partai Sosialis, menurut Mrazek, adalah sebuah kejutan. Betapa tidak, partai ini dianggap berpengaruh besar bagi arah pemerintahan pada paruh pertama dekade setelah kemerdekaan. Pemimpinnya pernah dua kali menjadi perdana menteri. Organisasinya, menurut klaim Sjahrir, adalah yang paling rapi pada saat itu. Namun, �Partai Sosialis menderita kekalahan yang menghancurkan, yakni kekalahan dalam politik massa,� tulis Mrazek.

Sjahrir boleh optimistis ketika para anggota partai berkumpul di rumahnya. Tapi tulisannya di sejumlah media jelas menunjukkan kekecewaan. Dalam artikel bertajuk �Pemilihan Umum untuk Konstituante� di harian Sikap, 5 Desember 1955, ia menulis: �Rakyat memberikan suara bukan berdasarkan motif agung. Melainkan karena mengikuti pemimpin yang mereka hormati dalam kehidupan sehari-hari. Bukan pahlawan, bukan pemuda revolusi, melainkan kiai, guru mengaji, lurah, dan mandor.�

Meski kecewa, Sjahrir tetap menunjukkan jiwa besar. �Gambar keadaan spiritual rakyat dan bangsa kita, keadaan dan taraf pengetahuan dan kesadaran politik sudah diberikan oleh pemilihan umum ini, dan dapat diterima untuk masa depan kita,� tulisnya. Ia percaya bahwa demokrasi akan membuat bangsa ini lebih baik. �Para politikus dengan kekurangan pengalaman dan pengetahuan mungkin dapat membawa negara ke jalan buntu, tapi seluruh rakyat akan membantu negara menemukan jalannya.�

Bagi Sjahrir, hasil pemilihan umum jelas-jelas menjadi pintu peralihan tanggung jawab urusan negara dari kaum terpelajar dan politikus�termasuk para pendiri bangsa�kepada rakyat. Dalam artikel bertajuk �Problem the Country Faces�, dimuat majalah Atlantic Monthly, Sjahrir menulis: �Pemilihan umum menunjukkan kesungguhan bahwa rakyat mampu mengambil bagian�meskipun kecil�dalam tanggung jawab negara.�

Mochtar Lubis, dalam Pejuang, Pemikir, dan Peminat, mengungkapkan bahwa Pemilihan Umum 1955 merupakan akhir karier politik Sjahrir. Namanya kian pudar, terpinggirkan oleh ramainya debat konstituante dan jatuh-bangun kabinet, tenggelam dalam gemuruh slogan revolusi.

Bagai meteor, Bung Kecil muncul di pentas Republik demikian cepat di usia belia, lalu hilang sekejap. �Kegagalan Partai Sosialis dalam pemilihan umum secara pasti menutup pintu Sjahrir untuk kembali ke kedudukan tinggi dalam pemerintahan,� kata Mochtar. Sang Meteor telah hilang di angkasa luas.

Sang Atom dan Dua Ideologi


SAAT berbicara dalam Konferensi Hubungan Asia pada 23 Maret 1947 di New Delhi, India, Sarojini Naidu (1879-1949) mengenalkan Sutan Sjahrir sebagai "perdana menteri atom", the atomic prime minister. Ada nada kagum dalam suara perempuan-penyair itu kepada perdana menteri termuda di dunia ini. Sjahrir ketika itu baru 38 tahun.

Atom, betapa tepat julukan itu. Sjahrir yang bertubuh kecil itu memang mengguncang khazanah diplomasi, ketika negara dunia ketiga lain belum bersuara. Dia manusia Indonesia pertama yang berpidato di majelis Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, mengenalkan Indonesia dan menyerukan dihentikannya penjajahan.

Di dalam negeri, Sjahrir tak segan menyerang Soekarno-Hatta. Ia absen dalam Proklamasi 1945 karena menilai deklarasi itu rekayasa Jepang, simbol fasisme yang dia perangi seumur hidup.


Tapi para penentangnya juga memakai julukan "si atom" untuk mengkritik: Sjahrir tak pernah meledak. Sjahrir, misalnya, oleh kaum pergerakan Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka dituding hanya berkhotbah. "Ia sejenis intelektual yang elitis," tulis Adam Malik dalam Mengabdi Republik (1978).

Sjahrir memang bukan sejenis politikus yang mengajak kerumunan dengan suara gemuruh macam Bung Karno. Hamid Algadri, anggota Konstituante, bersaksi Sjahrir bukan orator ulung. Dalam diskusi-diskusi, tokoh Partai Sosialis Indonesia itu tak mengecam lalu memaksakan kehendak. "Itu memang ciri orang PSI, low profile," kata Rahman Tolleng, 71 tahun, aktivis-politikus simpatisan PSI.

Dalam banyak esainya, terutama dalam buku Sosialisme Indonesia Pembangunan (1982), Sjahrir menyerang pelbagai hal dengan sederet argumentasi yang meyakinkan. Ia menyerang komunisme sebagai ideologi yang mengkhianati sosialisme karena mengabaikan kemanusiaan, seperti Stalin di Rusia, Mao Zedong di Cina, Pol Pot di Vietnam. "Sosialisme yang kita perjuangkan adalah sosialisme yang memerdekakan manusia dari penindasan dan pengisapan oleh manusia," tulisnya.

Para penentangnya mengejek Sjahrir dengan sebutan "soska" alias sosialis kanan karena keterpukauannya kepada segala yang berbau Barat: mengkritik kekolotan, tradisi, dan primordialisme. Sejak muda, tokoh kelahiran Padang Panjang pada 5 Maret 1909 itu menyatakan telah berpisah dengan adat Minang.

Rahman Tolleng menyebut ideologi Sjahrir sebagai "republikanis-sosialis". "Karena dia menekankan partisipasi rakyat," katanya. Karena itulah Sjahrir mengubah sistem presidensial menjadi parlementer agar partisipasi itu bisa maksimal. "Tapi revolusi juga menjadi pilihan jika jalan parlemen sudah tak mungkin."

Sejarah mencatat jalan parlemen dan revolusi pun tak ditempuh Sjahrir. Sal Tas, seorang sosialis Belanda dan bekas suami istri-pertama Sjahrir, menyebut sahabatnya itu simbol tragedi Indonesia. Sjahrir orang yang "gugur dan gagal": meninggal di pengasingan dan PSI terpuruk.

Dalam Pemilihan Umum 1955 PSI hanya meraih dua persen suara dan lima kursi di parlemen. Justru Partai Komunis Indonesia, yang ia kritik ideologinya, menempati posisi keempat perolehan suara. Pada akhirnya, dalam politik, yang tampil adalah mereka yang bisa membujuk dan agitatif. Rakyat lebih senang kepada Bung Karno.

Sampai hari ini, Sjahrir lebih dikenal sebagai penganjur ideologi sosial demokrat. Menurut Vedi Hadiz, pengajar ilmu politik di Universitas Nasional Singapura, ideologi Sjahrir adalah perpaduan antara tradisi sosial demokrat dan liberalisme.

Sosial demokrat Sjahrir, misalnya, terlihat pada perhatian dan gerakannya menumbuhkan pendidikan rakyat. Sedangkan liberalisme muncul dari sikapnya yang menjunjung hak dan kebebasan individu.

Dengan ideologi macam itu, Sjahrir tak begitu populer pada 1950-an. PSI membutuhkan suatu kelas menengah yang kukuh, suatu golongan masyarakat yang melek dan berpendidikan. Menurut Vedi, sekaranglah zaman yang cocok untuk sosialisme Sjahrir. Atom itu bisa meledak di zaman Internet ini.

Kolaborasi Dua Pejuang Sayap Kiri


DALAM Kongres Pemuda II 1928 di Jakarta, seorang pemuda mencuri perhatian para utusan yang datang dari berbagai daerah di Nusantara. Perawakannya kecil. Usianya pun masih muda, 19 tahun. Dibanding para pemuda lain seperti Muhammad Yamin (Jong Sumatera), Soegondo Djojopoespito (Jong Java), atau Mr Sunario (utusan Kepanduan), Sutan Sjahrir, sang pemuda itu, memang kalah "populer" dan tak berperan banyak dalam kongres ini. Tapi, dalam rapat-rapat di kongres itu, Sjahrir yang mewakili Jong Indonesie (Pemuda Indonesia) diakui sangat cerdas dan ikut memperjuangkan berdirinya negara Indonesia.

Dalam kongres yang melahirkan "Sumpah Pemuda" ini, Sjahrir pertama kali bertemu dengan Amir Sjarifoeddin (Jong Batak), bendahara panitia dan wakil ketua sidang kongres. Keduanya tak saling mengenal dekat. Tapi justru dari sinilah takdir keduanya bermula. Dua puluhan tahun kemudian, ketika kemerdekaan Indonesia terwujud, Sjahrir dan Amir bekerja sama menakhodai biduk pemerintahan, yang mewarnai sejarah republik ini.

Seusai kongres pemuda itu, Sjahrir dan Amir tak pernah bertemu lagi. Sjahrir melanjutkan pendidikan ke Universitas Leiden di Belanda. Di Negeri Kincir Angin ini, Sjahrir mempelajari sosialis dan menjadi anggota Perhimpunan Indonesia pimpinan Mohammad Hatta. Di dalam negeri, Amir memimpin Gerakan Indonesia (Gerindo) di masa pemerintahan kolonial Belanda.

Ketika pemerintah kolonial Belanda menangkap Soekarno dan melarang PNI, Sjahrir menghentikan studinya. Dia kembali ke Tanah Air pada 1931 dan memimpin PNI Baru, bersama Hatta, yang menyusul pulang. Pemerintah kolonial Belanda menangkap Hatta dan Sjahrir dengan tuduhan akan memberontak. Keduanya dibuang ke Boven Digul pada 1934, lalu diasingkan ke Banda Neira pada 1936. Saat Jepang mulai masuk ke Indonesia pada Januari 1942, pemerintah Hindia Belanda mengasingkan Hatta dan Sjahrir ke Sukabumi, Jawa Barat.

Di Sukabumi ini, Sjahrir dan Amir kembali bertautan. Menurut Rudolf Mrazek dalam bukunya berjudul Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia, yang diterbitkan pada 1994, Amir mendatangi Sjahrir (juga Hatta) di Sukabumi. Orang yang memperkenalkan Amir dengan Sjahrir adalah Soejitno Mangoenkoesoemo, adik Tjipto Mangoenkoesoemo-tokoh Indische Partij dan salah satu tiga serangkai (Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan Tjipto). Amir mengusulkan agar Hatta dan Sjahrir ikut ambil bagian dalam suatu skema kerja sama baru antara nasionalis Indonesia dan pemerintah kolonial Belanda. Dia juga menyebutkan suatu kemungkinan evakuasi jika tentara Jepang sampai menduduki Pulau Jawa.

Jepang akhirnya berhasil menguasai Indonesia. Selama masa pendudukan Negeri Matahari Terbit ini, Sjahrir memilih menjauhi "Saudara Tua" ini. Sjahrir membangun jaringan gerakan bawah tanah anti-fasis Dai Nippon (militer Jepang). Ini berbeda dengan tokoh pemuda lain seperti Soekarno dan Hatta, yang "bekerja sama" dengan Jepang. Sjahrir juga tidak terlibat dalam rapat-rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan proklamasi kemerdekaan.

Setali tiga uang dengan Sjahrir, Amir juga melakukan gerakan perlawanan bawah tanah terhadap Jepang. Tapi aktivitas Amir terendus Kenpeitai (polisi Jepang). Pada 30 Januari 1943, Amir ditangkap, dan 29 Februari 1944 dijatuhi hukuman mati oleh mahkamah militer Jepang di Jakarta. Tapi, berkat intervensi Soekarno dan Hatta, hukuman mati itu diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup. Jepang hanya berkuasa sekitar tiga setengah tahun di Indonesia. Pada 17 Agustus 1945, Indonesia menyatakan kemerdekaan. Amir keluar dari penjara seiring dengan kekalahan Jepang oleh Sekutu.

Kerja sama riil Sjahrir dan Amir akhirnya terwujud tatkala keduanya memimpin Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Sjahrir menjadi ketua dan Amir menjadi wakil ketua dalam lembaga yang berfungsi seperti legislatif ini. Presiden Soekarno setuju Sjahrir membentuk kabinet parlementer pada 14 November 1945. Sjahrir menjadi perdana menteri, merangkap menteri dalam dan luar negeri dalam kabinet Sjahrir I. Adapun Amir menjadi Menteri Pertahanan Rakyat.

Sejarawan Rushdy Hoesein menduga, Sjahrir dan Amir mau bekerja sama karena dilatarbelakangi cita-cita yang sama untuk menguasai pemerintahan. "Mereka melihat peluang itu," katanya kepada Tempo. Itu terbukti dari menteri-menteri yang bertanggung jawab kepada Komite.

Adanya Maklumat X pada 3 November 1945 yang mengatur pembentukan partai membuat kerja sama Sjahrir dan Amir semakin erat. Amir mendirikan Partai Sosialis Indonesia (Parsi) dan Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis. Sama-sama berhaluan sosialis, pada Desember 1945 keduanya meleburkan Parsi dan Paras menjadi Partai Sosialis, dengan Sjahrir sebagai ketua umum. "Mereka memaklumkan diri sebagai kekuatan sayap kiri yang menguasai pemerintah," kata Rusdhy.

Di mata aktivis Rahman Tolleng, pengikut junior Sjahrir, fusi Paras dan Parsi masih menjadi misteri. Alasannya, Sjahrir anti-komunis meski berhaluan sosialis kiri. Padahal Bung Kecil-julukan Sjahrir-sangat mengerti bahwa Amir sedikit condong ke komunis. "Ini masih menjadi pertanyaan buat saya," ujarnya.

Keharmonisan hubungan Sjahrir dan Amir terus berjalan dalam Kabinet Sjahrir II pada 12 Maret 1946. Perdana Menteri Sjahrir mempertahankan Amir sebagai menteri pertahanan. Tapi kabinet Sjahrir semakin krisis seiring dengan keinginan Belanda menguasai kembali Indonesia. Ketika tersiar kabar bahwa akan ada perundingan dengan Belanda yang hanya mengakui Sumatera, Jawa, dan Madura, terjadilah penculikan Sjahrir yang dilakukan sekelompok tentara anak buah Tan Malaka-mengaku memiliki testamen (wasiat) memimpin republik dari Soekarno-Hatta-seperti Brigadir Jenderal Soedarsono dan Mayor Abdul Kadir Yusuf pada 3 Juli 1946. Nasib Tan Malaka sendiri akhirnya berakhir tragis ditembak oleh tentara.


Krisis Kabinet Sjahrir-berlanjut ke Sjahrir III-semakin menjadi-jadi setelah ada perjanjian Belanda dengan Indonesia di Linggarjati, Cirebon, pada 15 November 1946. Dalam Perjanjian Linggarjarti, Belanda hanya mengakui secara de facto Sumatera, Jawa, dan Madura. Indonesia juga berubah menjadi Republik Indonesia Serikat. Selain mendapat serangan dari sejumlah partai, Sjahrir juga dikritik oleh Amir. Amir konon mencela Perjanjian Linggarjati ini.

Di mata wartawan senior Rosihan Anwar, celaan Amir atas Perjanjian Linggarjati mengherankan. "Delegasinya juga ada Amir Sjarifoeddin," ujar Rosihan, yang saat perjanjian dilakukan menjadi wartawan harian Merdeka.

Toh Mosi tidak percaya akhirnya tetap menjatuhkan Sjahrir pada 2 Oktober 1946. Amir naik menjadi perdana menteri dalam Kabinet Amir Sjarifoeddin I. Seperti Sjahrir, Amir juga melakukan persetujuan Renville dengan Belanda. "Malah lebih mundur dibanding Linggarjati," kata Rahman Tolleng.

Perpecahan Sjahrir-Amir semakin kentara ketika ada Marshall Plan seusai Perang Dunia II, yang membagi Eropa menjadi blok Timur dan Barat. Uni Soviet memerintahkan blok komunis menentang kapitalis pimpinan Amerika Serikat. Rosihan Anwar dalam bukunya Perjalanan Terakhir Pahlawan Nasional Sutan Sjahrir, yang ditulis pada 1966, menyebutkan bahwa Amir ingin Partai Sosialis menempuh garis Marxis-Leninis-Stalinis dan meminta Indonesia memihak Moskow (Soviet). Tapi Sjahrir berpendirian, Partai Sosialis harus menempuh sosialis kerakyatan yang demokratis dan politik luar negeri yang bebas aktif.

Tak ayal, kongsi Sjahrir-Amir pecah. Sjahrir keluar dari Partai Sosialis dan membentuk Partai Sosialis Indonesia (PSI). Amir membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR). Jatuhnya Kabinet Amir Sjarifoeddin pada Januari 1948 memperparah perseteruan aliran politik itu. Bergabungnya FDR pimpinan Amir dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Muso-baru datang dari Moskow-yang bermuara pada pemberontakan PKI di Madiun pada 1948, telah mengakhiri keberadaan Amir untuk selamanya dari ingar-bingar panggung politik Indonesia.

Nasib Sjahrir pun tak kalah tragis. Dalam Pemilihan Umum 1955, PSI jeblok, hanya mendapat lima kursi di DPR. Setelah muncul pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta (PRRI/Permesta), Soekarno membubarkan PSI dan menangkap Sjahrir. Si Bung Kecil pun sakit-sakitan dan akhirnya meninggal di Zurich, Swiss, pada 9 April 1966.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India